Menjaga seni menganyam keranjang gendongan dari warga etnis minoritas Chu –ru

18 April 2017 - 10:42:29

(VOVworld) – Terhadap etnis-etnis yang hidup di daerah Tay Nguyen di antaranya ada etnis minoritas Chu-ru, keranjang gendongan merupakan satu perkakas yang beken dan selalu berkaitan dengan warga etnis ini dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, keranjang gendongan selalu membawa faktor-faktor budaya dan juga merupakan perkakas yang menyimpan perasaan dan kesedaran mengenai alam sekitar dan kehidupan-nya mernurut cara memandang dan cara berfikir mereka sendiri. 

menjaga seni menganyam keranjang gendongan dari warga etnis minoritas chu –ru hinh 0
Keranjang gendongan dari warga etnis Chu-ru.
(Foto: Vietnam Tourism)

Ketika berkunjung di daerah Tay Nguyen, kita selalu melihat para kakek, laki-laki, wanita dan anak-anak menggendong keranjang di atas punggung-nya, pada saat pergi ke huma dan ke pasar. Keranjang gendongan sangat kondusif bagi mereka dalam mobilitas dan mengangkut barang-barang dalam kehidupan sehari-hari. Bagi para warga etnis Chu-ru, keranjang gendongan tidak hanya merupakan perkakas rumah tangga saja, melainkan juga merupakan satu karya kesenian yang dianggap sebagai “keranjang gendongan bermotip bunga”, karena ia dihiasi dengan motip dan model yang dianyam secara pandai oleh tangan prigel para warga etnis ini.

Untuk bisa anyam-menganyam satu keranjang gendongan, khusus-nya keranjang gendongan yang bermotip bunga, para warga etnis Chu–ru harus menyiapkan secara teliti dari soal memilih bahan sampai menciptakan motif dan akhirnya menyelesaikan produk. Bahan-bahan yang digunakan untuk menganyam keranjang gendongan yalah pohon gabus, rotan dan berbagai jenis kulit pohon yang lain.. Saudara Nguyen Van Duc, seorang wisatawan kota Hanoi memberitahukan: “Di daerah pegunungan Vietnam Utara, keranjang gendongan dianyamsederhana saja, tidak ada motip berbunga seperti keranjang gendongan warga etnis Chu-ru di daerah Tay Nguyen yang sangat indah. Dari cara dan teknik menganyam sampai cara menghias, semuanya sangat teliti. Motip-motip berbentuk huruf V, atau ketupat dianyam secara sangat halus, berwarna-warni.....sehingga keranjang gendongan kelihatan sangat menonjol, tapi sangat awet”.

Saudari Ma Ban, warga dukuh Pre, kecamatan Phu Hoi, kabupaten Duc Trong, propinsi Lam Dong memberitahukan bahwa dulu, hanya para lansia saja yang bisa menganyam keranjang gendongan bermotip bunga saja, tapi sekarang ini, para laki-laki muda dan gadis etnis Chu-ru juga diajar cara dan teknik anyam-mengayam keranjang gendongan bermotip bunga. Pembukaan kursus untuk mewariskan kejuruan anyam-menganyam keranjang gendongan telah turut melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang khusus ini. Saudari Ma Ban, warga dukuh Pre, kecamatan Phu Hoi, kabupaten Duc Trong, propinsi Lam Dong memberitahukan: “Dulu, sedikit pemuda yang bisa menganyam keranjang gendongan.. Setelah itu, kecamatan telah mengorganisasi kursus- kursus pelatihan, mengajar mereka cara menganyam keranjang gendongan. Banyak pemuda telah berpartisipasi dalam kursus ini. Selain itu, para sesepuh dukuh juga mengorganisasikursus-kursus, banyak pemuda dan pemudi telah hadir untuk belajar cara menganyam keranjang gendongan”.

Di dukuh Pre, kecamatan Phu Hoi, kabupaten Duc Trong, propinsi Lam Dong, Artisan Ya Hieng adalah seorang pelopor dalam mewariskan kejuruan-kejuruan tradisional dari etnis Chu-ru kepada generasi muda. Dia menganggap bahwa mengajar generasi muda cara menganyam keranjang gendongan tidak hanya membantu mereka  menambah pendapatan saja, yang lebih penting  yalah bisa melestarikan kejuruan tradisional dari warga etnis Chu-ru. Pada waktu lalu, pekerjaan mengajar dan mewariskan kejuruan tersebut kepada 8 orang anak-nya, bapak Ya Hieng juga mengajar warga di dukuh tentang cara menganyam perkakas rumah tangga. Artisan Ya Hieng memberitahukan: “Melestarikan untuk memulihkan kejuruan menganyam keranjang gendongan dari warga etnis Chu-ru merupakan hal yang selalu saya fikirkan, kalau tidak kejuruan ini akan menjadi aus. Negara sekarang ini telah membuka kursus-kursus untuk mengajar para warga dukuh cara menganyam keranjang gendongan”.

Tidak hanya digunakan ketika pergi ke huma dan  pasar, keranjang gemdongan bermotip bunga dari warga etnis Chu–ru juga digunakan dalam berbagai pesta, upacara pernikahan, berjalan-jalan dan semua keranjang gendongan kecil juga digunakan dalam upacara memberi nama kepada para bayi. Ketelitian dan nilai dari keranjang gendongan bermotip bunga  telah memanifestasikan kepandaian dan keprigelan tangan para warga etnis Chu-ru, orang-orang yang sedang berupaya untuk melestarikan nilai budaya tradisional dari etnisnya.