Yunani menghadapi saat-saat keluar dari Uni Eropa

 (VOVworld) –  Selasa (30 Juni) merupakan hari jatuh tempo utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan juga merupakan hari dimana paket bantuan untuk Yunani sudah tidak efektif lagi. Meskipun tidak ada peraturan yang menetapkan Yunani harus meninggalkan Eurozone kalau tidak bisa membayar utang, namun jalan bagi Yunani untuk tinggal di zona ini  adalah sangat sulit. Meskipun hanya memberikan sumbangan kepada GDP Eurozone sebanyak belum sampai 2 persen, akan tetapi keluarnya dari Yunani akan menciptakan preseden yang jelek terhadap negara-negaralain di kawasan, berpengaruh serius terhadap citra “kesejahteraan” yang selalu dituju oleh kawasan Eurozona sejak dulu sampai sekarang. 

Yunani menghadapi saat-saat keluar dari Uni Eropa - ảnh 1
Perdana Menteri Yunani . (Kanan).
(Foto:www.baomoi.com)

  Dengan tarap utang mencapai 320 miliar dolar Amerika Serikat, Yunani sedang berada di situasi seperti “ Telur di atas tanduk”, terutama ketika semua masalah  di negara ini hampir- hampir seperti sedang mengalami kemacetan. Pada hari Selasa (30 Juni) ini, Atena harus membayar 1,5 miliar dolar Euro kepada IMF, atau ditanyakan  mengalami gagal bayar. Tidak bisa membayar utang tepat pada waktu-nya, Yunani akan tidak dapat menerima lagi  paket bantuan manapun dari IMF. Tanpa mendapat bantuan berarti Yunani harus mencetak uang untuk mempertahankan aktivitas Pemerintah dan keluar dari Eurozone. 

Luberan minyak yang berpengaruh terhadap ekonomi global.

Suasana di negara kawasan Laut Tengah  ini sedang menjadi panas dari jam ke jam ketika warga-nya secara besar-besaran menarik uang-nya dari Bank karena  mengkhawatirkan bahwa sistem perbankan akan mengalami keruntuhan. Sejak Minggu malam (28 Juni), Yunani menutup semua bank dan mengontrol modal secara ketat sampai akhir 6 Juli ini bertujuan menjaga sistem keuangan pada latar belakang sudah habis kemampuan membayar utang. Bersamaan itu, Bank Sentral Eropa (ECB) memberitahukan akan membekukan semua paket pinjaman darurat yang sedang mempertahankan aktivitas sistem perbankan negara ini. Meskipun hanya menduduki  prosentasi kecil dalam perekonomian global, namun Yunani  adalah satu anggota Eurozone, maka semua instabilitas tentang situasi keuangan di Yunani berpengaruh terhadap hampir semua pasar keuangan global.

Segera setelah perundingan terakhir antara otoritas Yunani dan para kreditornya mengalami kegagalan, indeks  efek di pasar Asia, pada Senin (29 Juni) turun secara drastis. Indeks Nikkei225, Jepang berkurang 2,9 persen. Indeks efek Shanghai (Tiongkok)  berkurang 7 persen lebih. Indeks efek Hang Seng (Hongkong-Tiongkok) berkurang  2,6 persen. Indeks-indeks  lain  seperti S&P/ASX 200 dari Asutralia dan Kospi dari Republik Korea juga turun. Mata uang Euro juga turun secara drastis terbanding dengan berbagai mata uang lain. Sementara itu, harga emas juga berkecenderungan meningkat  karena kalangan investor  mengobral harta benda  yang punya resiko tinggi untuk  diganti dengan harta-harta benda  yang punya stabilitas  lebih tinggi  seperti dolar Amerika Serikat dan emas.


Apakah melakukan referendum untuk menahan Yunani tetap berada di Eurozone?

Dalam satu perkembangan terkini, Parlemen Yunani telah setuju melakukan referendum pada Minggu (5 Juli), menurut itu rakyat Yunani akan harus menentukan  dengan cara memberikan suara apakah Pemerintah menerima atau menolak rancangan permufakatan yang dikeluarkan oleh tiga kreditor. Yaitu terus melakukan reformasi mengetatkan perbelanjaan untuk diganti dengan paket bantuan. Tapi, menurut kalangan analis, hal ini juga sulit membantu Atena lepas dari situasi gagal bayar utang dan meninggalkan Eurozone karena rakyat negeri ini sulit bisa menderita lagi kebijakan-kebijakan “mengetatkan ikat pinggang” .

  Rakyat Yunani telah terlalu kecapaian atas kebijakan-kebijakan“mengetatkan ikat pinggang” yang sedang  berpengaruh kuat  terhadap kehidupan mereka sehari-hari pada waktu lalu. Selama 5 tahun ini, kualitas  kehidupan rakyat Yunani telah turun secara serius, prosentase pengangguran  kira-kira 26 persen, diantaranya tenaga kerja muda menduduki 50 persen lebih. Perekonomian yang sudah berantakan selama beberapa tahun ini  tetap belum ada indikasi yang terang benderang. Oleh karena itu, meski  bagaimanapun hasil referendum, maka peristiwa-peristiwa berlangsung selama beberapa hari belakangan ini membuat perekonomi negara ini sulit bisa berdiri tegak. Kunci masalahnya  sekarang bukanlah apakah Uni Eropa menggelontarkan lagi uang kepada Yunani atau tidak, melainkan apa yang harus dilakukan Yunani untuk lepas dari satu krisis yang berlarut-larut selama  bertahun-tahun ini.

Kaitan-kaitan akibat keluarnya Yunani dari Eurozone

Uni Eropa sekarang ini telah menyiapkan skenario keluar-nya Yunani  dari Eurozone. Hal ini akan membawa Yunani  ke satu tahap ekonomi baru yang teramat sulit. Dengan satu mata uang domestik yang baru, yang nilai-nya jauh lebih rendah terbanding dengan mata uang Euro, Yunani akan tenggelam dalam satu resesi yang mendalam dan berlarut-larut. Keluar-nya Yunani dari Eurozone juga akan memberikan pengaruh tidak kecil terhadap seluruh Eropa dan pasar-pasar internasional. Satu efek domino yang buruk bisa terjadi setelah Yunani mengalami gagal bayar. Pasar keruangan negara-negara yang lemah dalam Eurozone akan terguncangkan. Sentimen mencemaskan hilang-nya  nilai mata uang bisa membuat semua perusahaan dan investor secara besar-besaran menarik uangnya dari negara-negara ini. Lebih-lebih lagi, gagal bayar yang dialami Yunani akan berpengaruh serius terhadap ambisi mempertahankan Eurozone, mengancam citra “kesejahteraan bersama” yang selalu dituju oleh Uni Eropa sejak dulu sampai sekarang.

Untuk bisa mempertahankan Yunani berada di Eurozone, yang berarti mempertahankan kestabilan di kawasan, kaum kreditor Uni Eropa hanya tinggal satu cara yalah harus memberikan konsesi, setuju terus “menyelamatkan” Atena setelah batas waktu jatuh tempo sudah tiba. Akan tetapi, untuk bisa melakukan hal ini, Uni Eropa harus menghadapi tekanan yang amat besar dari tentangan-tentangan terhadap penggunaan pos pendapatan dari pajak warga di Eurozone untuk memberikan bantuan, bersamaan itu menciptakan preseden yang buruk terhadap negara-negara  lain  yaitu bisa menerima pos-pos pinjaman dan tanpa perlu memangkasperbelanjaan. Akan tetapi, pada saat ini, hal itu merupakan dasar yang tipis untuk bisa berharap pada satu penyelamatan yang menakjubkan bagi Yunani pada saat-saat terakhir./.



Komentar

Yang lain