Dalam pertemuan tersebut, Sekjen sekaligus Presiden To Lam dan PM Anthony Albanese sepakat untuk meningkatkan pertukaran tingkat tinggi maupun berbagai tingkatan lain memperdalam hubungan pertahanan dan keamanan; memperluas kerja sama di bidang pertahanan, keamanan siber, penanggulangan kejahatan lintas negara dan penanganan berbagai tantangan keamanan nontradisional.
Dalam kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi, kedua pihak menargetkan nilai perdagangan bilateral mencapai 20 miliar USD; sekaligus memperkuat konektivitas rantai pasokan, investasi berkualitas tinggi dan kerja sama di bidang ekonomi hijau, ekonomi digital, energi baru dan industri masa depan.
Kedua pemimpin juga sepakat menjadikan sains dan teknologi, inovasi kreatif serta transformasi digital sebagai penggerak baru hubungan kedua negara. Selain itu, Kedua pemimpin juga sepakat mendorong kerja sama dalam transformasi hijau dan pembangunan berkelanjutan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim, menuju target net zero emisi.
Setelah pembicaraan tersebut, kedua pemimpin menyaksikan upacara penandatanganan dan pertukaran berbagai dokumen kerja sama di bidang sains dan teknologi, inovasi kreatif, ekonomi digital, pendidikan dan pelatihan serta bidang-bidang lainnya.
Dalam konferensi pers setelah pembicaraan tersebut, Sekjen sekaligus Presiden To Lam menegaskan: “Kedua negara akan semakin memperkuat kerja sama di berbagai bidang, seperti kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, teknologi digital, keamanan siber, teknologi hijau dan berbagai teknologi baru yang sedang berkembang; mendukung peningkatan kapasitas untuk berpartisipasi secara lebih mendalam dalam rantai pasokan regional dan global, khususnya di bidang-bidang strategis seperti mineral strategis, energi bersih, transisi energi dan teknologi tinggi. Kami sepakat untuk terus menjadikan pendidikan dan pelatihan serta silaturahmi rakyat sebagai fondasi jangka panjang dan salah satu pilar terpenting dalam hubungan bilateral”.
