Hoanh Mo merupakan sebuah kecamatan di daerah pegunungan perbatasan Provinsi QuangNinh, yang sebagian besar penduduknya adalah etnis minoritas Dao Thanh Phan. Sejak awal Juli, pemerintah kecamatan bekerja sama dengan Badan Pengarah Kegiatan Musim Panas membuka kelas mengajarkan bagaimana menyulam tradisional dan kelas mengajarkan untuk menyanyi lagu rakyat Pa Dung bagi anak-anak dan remaja, yang berlangsung hingga akhir Agustus.
Di kelas menyulam, anak-anak belajar mulai dari teknik tusuk dasar, hingga cara membuat motif. Namun, yang lebih penting dari sekadar teknik adalah memahami mengapa pada pakaian tradisional yang dikenakan nenek dan ibu mereka terdapat begitu banyak gambar dan motif yang dibuat dengan sangat teliti dan rumit.
Sementara itu, kelas menyanyi Pa Dung diikuti oleh lebih dari 40 anak. Seniman Ly Thi Hanh, pengajar kelas tersebut, memperkenalkan berbagai lagu dan melodi Pa Dung, jenis lagu rakyat yang biasa dinyanyikan oleh masyarakat Dao Thanh Phan pada hari-hari bahagia, perayaan, maupun saat mengungkapkan perasaan satu sama lain: “Setelah menguasai nyanyian lagu-lagu Pa Dung, anak-anak akan lebih percaya diri saat tampil menyanyi di depan banyak orang. Mereka juga dapat menyanyi untuk menghibur wisatawan yang ingin mempelajari lagu-lagu Pa Dung dari masyarakat Dao.”
Meninggalkan kecamatan perbatasan Hoanh Mo dan bergerak ke arah barat, di kaki Pegunungan Yen Tu, terdapat kelas lain yang tak kalah istimewa. Ini adalah kegiatan musim panas khusus yang digelar di kawasan Khe Su, Kecamatan Yen Tu, wilayah dengan komunitas etnis Dao Thanh Y terbesar di kecamatan tersebut.
Setiap Minggu malam, di wisma pameran budaya masyarakat Dao di kawasan tersebut, yang diterangi cahaya lampu, Liga Pemuda Komunis Ho Chi Minh setempat menyelenggarakan dan memandu kegiatan musim panas tematik. Banyak anak antusias hadir dengan mengenakan pakaian tradisional etnis mereka.
Kegiatan tersebut dimulai dari hal-hal yang mereka lihat setiap hari, tetapi mungkin belum sepenuhnya mereka pahami maknanya. Misalnya, topi hiasan kancing-kancing perak, yang dipercayai masyarakat Dao berfungsi untuk mengusir roh jahat dan menjaga kesehatan. Ada pula kain penutup dada dan ikat pinggang yang ditenun secara manual, dengan motif burung, hewan, rerumputan, dan tumbuh-tumbuhan.
Truong Hong Diep, siswi kelas 9 yang mengikuti kegiatan tersebut, mengatakan bahwa kegiatan ini membuatnya menyadari betapa indahnya pakaian tradisional etnisnya: “Saya sangat menyukai pakaian tradisional etnis saya karena memiliki keindahan khas yang berbeda dari pakaian etnis lainnya. Saya senang bisa mendapatkan pengetahuan tentang tradisi pakaian, berbagai ritual tradisional, sehingga saya semakin memahami budaya etnis saya.”
Hal yang menarik adalah di Khe Su, kelas ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak dari etnis Dao. Bui Duy Phuc, siswa kelas 11 dari etnis Kinh (etnis yang mencakup lebih dari 86% populasi Vietnam ) juga selalu hadir secara rutin: “Meskipun saya berasal dari etnis Kinh, saya sangat ingin mempelajari budaya masyarakat Dao. Saya juga bergabung dalam klub bersama teman-teman dari etnis Dao untuk belajar dan menimba pengetahuan dari mereka. Budaya mereka sangat khas dan menarik.”
Tidak hanya anak-anak yang antusias, para orang tua juga bersemangat mengikuti kegiatan ini. Pham Thi Thuy Linh, salah seorang orang tua di Khe Su, berbagi pengalamannya: “Anak-anak sangat antusias. Mereka datang lebih awal dan selalu menantikan hari kegiatan agar bisa bertemu dengan teman-teman. Hal ini sangat baik untuk membantu mereka lebih memahami identitas budaya dan adat istiadat etnis mereka sendiri. Ketika mereka dewasa nanti, mereka dapat memperkenalkan budayanya kepada masyarakat luas maupun teman-teman sekelas mereka.”
Dang Van Khoi, Wakil Sekretaris Liga Pemuda Komunis Ho Chi Minh Kecamatan Yen Tu mengatakan bahwa model kegiatan yang dilakukan oleh Liga Pemuda Komunis Ho Chi Minh di Khe Su kini didorong untuk diganda-luaskan, terutama setelah Yen Tu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia: “Liga Pemuda Komunis Ho Chi Minh tingkat kecamatan berencana untuk mendorong Liga Pemuda di tingkat akar rumput menyelenggarakan kegiatan tematik, terutama yang berkaitan dengan budaya. Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat membantu anak-anak memahami dengan lebih jelas dan mendalam asal-usul mereka, sekaligus melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya luhur Yen Tu.”
Musim panas ini, bagi anak-anak di Quang Ninh, kecintaan terhadap identitas budaya mereka tumbuh dari hal-hal sederhana, mulai dari kegembiraan belajar teknik menyulam, hingga menyanyikan lagu-lagu yang selama ini diwariskan dan dilestarikan oleh para nenek dan ibu mereka.
