(VOVWORLD) - Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, pada 2 Maret mengimbau semua pihak terkait untuk “menahan diri semaksimal mungkin”. Seruan ini muncul setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dan serangan-serangan balasan Teheran.
Serangan Israel terhadap sekolah di Minab, Iran pada 28 Februari (Foto: Abbas Zakeri/Mehr News/WANA via REUTERS) |
Pada hari yang sama, ketika menyampaikan pidato kepada The Telegraph, Presiden AS, Donald Trump menuturkan bahwa pemimpin Iran sebenarnya “sungguh-sungguh ingin mencapai kesepakatan” dengan Washington di tengah eskalasi serangan yang terus berlanjut. Namun Ia memberitahukan bahwa AS merencanakan serangan terhadap sejumlah pemimpin Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan dan tidak menutup kemungkinan mengerahkan pasukan infanteri ke negara tersebut.
Pada 2 Maret, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengimbau deeskalasi segera untuk mencegah konflik antara AS dan Israel terhadap Iran meluas ke seluruh Timur Tengah. Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis, Jean-Noel Barrot menyatakan bahwa negara ini “siap” membela negara-negara Teluk dan Yordania serta menghadapi Iran apabila diperlukan. Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada hari yang sama melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Arab mengenai eskalasi ketegangan di Timur Tengah, di antaranya menekankan perlunya menangani situasi melalui langkah diplomatik.
Juga pada 2 Maret, Pasukan Bela Diri Israel (IDF) memberitahukan bahwa selama dua hari terakhir, Angkatan Udara Israel telah menyerang lebih dari 600 sasaran di seluruh wilayah Iran. Tentara Israel, pada 2 Maret telah menewaskan seorang pejabat senior Gerakan Hezbollah di Beirut, Ibukota Lebanon, bersamaan itu, menyatakan bahwa sasaran selanjutnya adalah pemimpin Gerakan tersebut.
Sementara itu, Kantor Berita Fars memberitakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menggunakan rudal jarak jauh untuk langsung menyerang kompleks Pemerintah Israel di Yerusalem, di antaranya ada Kantor Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dan Kantor Komando Angkatan Udara.
Asap mengepul setelah ledakan di Teheran pada 2 Maret (Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS) |
Menurut Lembaga Bulan Sabit Merah Iran, setidaknya 555 orang telah tewas dalam serangan-serangan AS dan Israel terhadap Irak sejak 28 Februari. Di Lebanon, Kementerian Kesehatan negara ini memberitahukan bahwa serangan Israel terhadap wilayah Lebanon Selatan dan pinggiran Ibukota Beirut pada 1 Maret malam hingga 2 Maret pagi telah menewaskan 31 orang dan melukai 149 orang. Di pihak Israel, kalangan otoritas negara ini mengonfirmasikan ada 19 orang yang terluka dalam serangan rudal Iran terhadap kawasan Beersheba pada 2 Maret pagi.