Cong Luong- Desa sayang istri

(VOVWORLD) - Ketika berbicara tentang Kota  Hue (Vietnam Tengah), orang tidak hanya berbicara tentang seni arsitektur di Ibukota kuno ini, melainkan juga berbicara tentang ciri-ciri indah kebudayaan  dan cara  berperilaku dari warga-nya. Dalam kisah-kisah tentang Hue dulu, ada kisah tentang desa-desa yang melakukan usaha tani di peluaran Ibukota kuno Hue, tapi di sana, kaum perempuan tidak pernah harus  melakukan usaha tani, karena semua pekerjaan di sawah dilakukan oleh kaum laki-laki.
Cong Luong- Desa sayang  istri - ảnh 1Para perempuan di Desa Cong Luong hanya di rumah untuk merawat anak-anak saja. (Foto: internet)

Di Desa Cong Luong di Kecamatan Thuy Van, jauhnya kira-kira 7 Km dari Kota kuno Hue (Vietnam Tengah), kisah tentang kaum perempuan yang seumur hidup mereka tidak harus susah payah bekerja di sawah merupakan satu kisah biasa dan mengendap dalam waktu  selama ratusan tahun ini.

Desa Cong Luong pada masa kini dilihat tetap masih sangat kuno dan suasana-nya tenang. Di dermaga sungai di ujung desa, para perempuan mencuci pakaian dan sambil berbincang-bincang secara gembira dan tenang. Jalan masuk desa selalu sepi, kadang-kadang ditemukan beberapa orang perempuan yang jual-beli dan para anak bermain di gang-gang yang sepi. Tapi dengan mutlak tidak ditemukan laki-laki. Di belakang desa ialah sawah -sawah padi  yang sudah masak menguning. Para laki di desa ini sedang dengan giat  memaneni dan membawa padi ke  desa. Bapak Truong Huu Tri, Kepala Desa Cong Luong memberitahukan bahwa pekerjaan di sawah  mrupakan pekerjaan yang memerlukan kesehatan baik, harus luwes dan rajin, para laki-laki di desa kami selama ini menjadi  biasa dengan pekerjaan di sawah-sawah. Dia memberitahukan: “Kaum perempuan di Desa Cong Luong tidak ikut melakukan usaha tani, pada pokoknya dilakukan oleh para laki-laki. Karena tidak harus bekerrja di sawah, maka para perempuan di desa kami  hanya membawa makanan  dan air minum kepada suami dan  anak, bahkan mereka tidak tahu dimana sawah yang dimiliki keluarganya”.

Bagi warga di Desa Cong Luong ini, hati nurani dan simpati manusia adalah amat penting. Dalam kehidupan, berbuat apa saja harus selalu jujur, tidak  mementingkan diri sendiri maka baru bernilai.

Hal yang penting ialah hati dan perasaan  kemanusiaan yang diberikan kepada kaum penerima. Kaum laki-laki di Desa Cong Luong dengan sukarela menerima pekerjaan yang berat dan sulit, memberikan rasa sayang dan simpati kepada para perempuan telah menjadi tradisi yang bernilai, menjadi brand “desa sayang istri”. Ibu Le Thi Gai, seorang menantu perempuan di Desa Cong Luong selama 30 tahun ini memberitahukan: “|Kaum laki-laki di desa ini sangat menyayangi istri..Menurut adat istiadat di desa ini, para laki-laki  bekerja di sawah, sedangkan para perempuan membuat pekerjaan di rumah dan merawat anak-anak, mereka tidak pernah bekerjan di sawah, hanya membantu saja”.

Pekerjaan di sawah sepenuh-nya dilakukan oleh kaum laki-laki, kaum perempuan hanya memberikan bantuan, melakukan pekerjaan di rumah dan merawat anak-anak saja. Itulah kenyataan-kenyataan  yang meneggakkan brand “Desa msayang istri”.

Komentar

Yang lain