Kapal penangkap ikan milik warga Pulau Koh Sichang. Foto: VOV

Suami-istri saudari Sunee Laomanee yang tinggal di Pulau Koh Si-chang telah melakukan pekerjaan melaut selama bertahun-tahun. Kegiatan penangkapan ikan dan pemasarannya dilanda kesulitan selama beberapa tahun ini, sehingga saudari Sunee telah meneliti dan mencari tahu tentang cara jual barang di jejaring sosial.

“Kami menjual melalui Facebook dan mengirimkan barang melalui pos ke seluruh negeri. Kami mengirimkan barang ke agen-agen melalui pos, feri, atau dermaga Sriracha”.

Laman facebook saudari Sunee. Foto: VOV

Hasil laut ditangkap suami-istri saudari Sunee Laomanee pada pokoknya pada siang hari, maka selalu segar dan lezat. Karena menjual melalui media sosial, suami-istri saudari Sunee sangat memperhatikan kualitas, kebersihan, dan keselamatan bahan makanan. Saat ini, jumlah pelanggan yang mengenal dan memesan hasil laut dari suami-istri saudari Sunee semakin meningkat.

Tidak hanya membantu suaminya menangkap ikan, saudari Sunee juga mencari tahu dan belajar lebih banyak pengetahuan tentang memasak untuk mengolah bermacam-macam hidangan dari sumber hasil laut yang dieksploitasi. Kadang-kadang, saudari Sunee akan mengadakan livestream agar pelanggan secara daring menonton cara dia memasak. Cara penjualan ini telah membantu suami-istri saudari Sunee Laomanee mendapat sumber pendapatan yang stabil untuk mempertahankan usaha tradisional, memperbaiki mata pencaharian, dan memikirkan pendidikan anak-anak.

“Kami menjual hasil laut dengan harga yang wajar, cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak kami. Kami tidak membutuhkan keuntungan yang terlalu besar, hanya membutuhkan pekerjaan. Pada hari libur, anak-anak kami juga melaut bersama. Anak-anak saya kuliah di Bangkok”.

Mengeringkan cumi-cumi. Foto: VOV

Pada pukul 3 pagi, ketika sebagian besar penduduk di Pulau Koh Si-chang sedang tidur, Ibu Phanomwan Punthavikirtikan memulai membeli hasil laut di pelabuhan perikanan. Banyak warga di pulau yang tidak memiliki pekerjaan stabil dipekerjakan oleh suami-istri Ibu Phanomwan untuk mengolah hasil laut. Objek utama yang dibeli suami-istri Ibu Phanomwan adalah cumi-cumi. Setelah membeli cumi-cumi dari pelabuhan perikanan, Ibu Phanomwan akan menugaskan buruh untuk mengolah dan mengeringkannya sebelum mengemasnya ke dalam kantong "cumi-cumi setengah kering".

“Setiap shift, kami membayar 300 baht per orang untuk mengolahnya setengah jadi. Biaya pengupasan cumi-cumi tergantung jumlahnya, setiap orang akan menerima sekitar lebih dari 100 baht.

Ibu Phanomwan. Foto: VOV

Karena usianya sudah lanjut dan kurang mahir menggunakan teknologi dan smartphone, maka selain menjual langsung kepada penduduk lokal dan wisatawan, Ibu Phanomwan belum memiliki kanal penjualan yang luas. Berkat para staf Dinas Hubungan Masyarakat Provinsi Chon Buri yang membimbing dan merekam video sosialisasi produk cumi-cumi setengah kering, Ibu Phanomwan telah memperbarui cara sosialisasi yang lebih luas dan efektif. Dari situ, pendapatan keluarganya pun meningkat.

Semua upaya komunitas nelayan, sinergi pemerintahan dan cabang perikanan daerah bisa membantu cabang eksploitasi tradisional di Pulau Koh Si-chang bisa dilestarikan, dari situ mempertahankan mata pencaharian dan meningkatkan pendapatan komunitas nelayan setempat./.