Memori Istri Mantan Diplomat Indonesia yang Pernah Tinggal di Vietnam pada Zaman Perang

(VOVWORLD) - Vietnam dan Indonesia merebut kemerdekaan pada 75 tahun lalu (1945), di antaranya ada tonggak 65 tahun kedua negara menjalin hubungan diplomatik. Guna memupuk hubungan persahabatan yang erat tidak bisa tidak menyebut generasi-generasi para diplomat. Sebagai saksi hidup di zaman peperangan di Vietnam, sebagai istri dari seorang diplomat yang bekerja di KBRI untuk Hanoi dari tahun 1967-1972, Ibu Sri Wilis Djati Soeroso mencatat memori-memorinya dalam satu buku dengan nama: “Memori yang tak terlupakan”.  
Memori Istri Mantan Diplomat Indonesia yang Pernah Tinggal di Vietnam pada Zaman Perang - ảnh 1Ibu Wilis memperkenalkan buku "Memori yang tak terlupakan" kepada wartawan VOV

Saya mengunjungi Ibu Wilis Djati pada akhir pekan di musim hujan di negeri seribu pulau, cuacanya sedingin Hanoi di musim gugur. Di rumah seluas sekitar 80 meter persegi di Ibukota Jakarta bagian selatan, suara piano bergema dengan melodi lagu Vietnam "Tadi malam aku mimpi bertemu Paman Ho", sehingga mengharukan wartawan VOV. Ibu Sri Wilis Djati Soeroso, 82 tahun, yang sudah lambat langkah kedua kakinya, memakai kaca-mata, kedua tangannya berselancar canggih di atas bilah-bilah toets piano yang telah tua, asyik tenggelam dalam memori tentang masa-masa ketika tinggal di Vietnam. 48 tahun telah berlalu, wanita ini tetap menyimpan semua "kenangan yang tak terlupakan" dalam buku dengan judul yang sama, dan bisa dengan lancar menceritakan semua kenangan masa lalu seperti melodi pianonya.

“Mirip-mirip karena itu “đồng bào chú ý” máy bay địch cách Hà Nội – pesawat terbang ‘địch” ke arah Ha Noi 70 Km – 70 cây số, turun 60 Km – 60 cây số, terus 30. Itulah saatnya kita harus masuk guha perlindungan di belakangan rumah. Dan di setiap pinggir jalan ada satu lubang perlindungan untuk satu orang. Di sana dingin sekali.  Memang sungguh bangsa Vietnam itu bangsa yang paling gagah berani di dunia, telah mengalahkan Amerika tanpa senjata modern”.

Memori Istri Mantan Diplomat Indonesia yang Pernah Tinggal di Vietnam pada Zaman Perang - ảnh 2Ibu  Ibu Sri Wilis Djati Soeroso

Pada 1967, Ibu Wilis mengikuti suaminya yang menerima tugas sebagai Konselor Penerangan KBRI di Hanoi (Vietnam). Selama lima tahun tinggal di Vietnam, keluarganya menerima bantuan dari warga setempat yang antusias. Nama-nama yang masih bisa ia ucapkan dengan jelas dalam bahasa Vietnam hingga saat ini, seperti kak Binh, kak Nghiem, kak Cao, kak Nga (nama-nama asisten rumah tangganya) atau Docter Toan, yang merawat anak sulungnya. Atau bahkan pengalamannya di hari-hari pertama di musim dingin Kota Hanoi, berbaur dalam adat-istiadat Vietnam seperti pergi ke pagoda di awal tahun baru, membungkus kue Chung (yaitu sejenis kue tradisional Vietnam khas tahun baru imlek), menyaksikan masyarakat yang antri membeli barang di masa subsidi negara, dan sebagainya... semuanya ia alami dan ditulis lengkap. Namun baginya, kenangan yang terukir secara mendalam dalam lubuk hatinya dan membuatnya selalu terharu, ketika Presiden Ho Chi Minh wafat pada 2 / 9/1969. Ibu Wilis mengenangkan kembali:

“Saya ikut Ibu  Menteri awal dari sini datang dan di sana cuma ada  saya dan seorang lagi. Semua menangisi Presiden Ho Chi Minh seperti menangisi ayahnya yang meninggal. Sedih sekali memang”.

Sambil merapikan hijabnya, ia melanjutkan dengan mengatakan: “Pada awal September 1969, Radio Suara Vietnam menyiarkan lagu-lagu dan puisi-puisi sedih tentang ‘Ho Chi Minh’, suasana di jalan sangat sedih, hanya suara sandal dan kendaraan dan orang-orang yang menangis.

Memori Istri Mantan Diplomat Indonesia yang Pernah Tinggal di Vietnam pada Zaman Perang - ảnh 3Wartawan VOV dan keluarga Ibu Wilis 

Sekarang, di ruang tamu kediaman Ibu Wilis masih tersimpan kenang-kenangan saat tinggal di Vietnam, seperti lukisan pernis berbentuk menara kura-kura, bunga teratai, pot keramik berwarna biru putih, dan kotak surat pribadi keluarganya ketika tinggal di Kota Hanoi. Semua kenangan ini meskipun sudah tua, namun tetap ia sayangi dan rawat dengan hati-hati, mengingatkannya akan kenangan dengan almarhum suaminya, seorang diplomat dengan banyak pengalamanm, dan tentang tanah air Vietnam yang jauh. Semua kenangan itu telah dibukukan oleh anak-anaknya dengan penuh rasa hormat,  dan dihadiahkan kepada teman-teman dan kerabat. Bapak Djati Rekso Wibowo, putra sulung Ibu Wilis, dan Ibu Sri Retno Wijayanti - putri bungsu Ibu Wilis mengatakan:

“Pada dasarnya ini cuma diary. Dia menulis ini untuk mengisi waktu luang karena (yang ber-) kegiatan bapak saya, jadi (ibu) tidak ada kegiatan. Jadi karena dia hobinya menulis dan dituangkan semua pikirannya di situ secara detil. Tapi tanpa kita sadari itu sebenarnya juga (menjadi) jembatan dari hubungan dua negara, karena kehadiran, adanya orang tua saya di Vietnam karena dalam rangka bekerja untuk mewakili negara RI. Dan itu juga menjelaskan detil acara-acara di kedutaan, mewakili negara, dan juga dengan para wakil negara sahabat dan sebagainya. Dan di situ, ketika dituangkan menjadi buku, menjadi cerita yang cukup luar biasa, apalagi dengan pengalaman yang langsung, menghadapi serangan udara Amerika dan, juga yang tidak kalah menarik, ingatan beliau yang dituangkan detil itu mengenai prosesi pemakaman atau upacara kebesaran untuk pemakaman Presiden Ho Chi Minh”.

“Membuat itu menjadi sebuah cerita yang lebih menarik. Saya membaca berulang-ulang, sudah sampai akhir, saya baca lagi dari awal. Itu juga cerita ibu selama di sana, keluarga saya selama di sana itu benar-benar masuk ke diri saya juga, walaupun sebenarnya (karena) saya anak bungsu, saya lahir(-nya) di Jakarta. Untuk istilah-istilah yang saya tidak ketahui, saya coba cari di Google, di Google Translate. Untuk daerah-daerah di Vietnam yang diceritakan itu saya juga cari, bener gak nama daerahnya. Tapi kayaknya tidak ada gading yang tidak retak ya, sudah jadi buku pun ibu saya tetap koreksi. Ini salah, ini salah. Tapi sebenarnya saya gak tahu, salahnya dimana. Saya mencetak 50 (buku), dan itu teman-teman saya, kan saya posting di Facebook waktu itu, teman-teman saya langsung, Gue pesen, gue pesen satu, terus minta tanda tangan nyokap loe. Minta tanda tangan ibu, terus saya berikan ke teman-teman saya”.

Memori Istri Mantan Diplomat Indonesia yang Pernah Tinggal di Vietnam pada Zaman Perang - ảnh 4Keluarga Ibu Wilis dalam acara peringatan ultah tahun ke-25 Hari Kemerdekaan Indonesia pada 1970 di Kota Hanoi 

Hampir setengah abad berlalu, mantan istri diplomat Indonesia tersebut masih berkeinginan datang kembali ke Vietnam, negara yang saat ini telah jauh berkembang, menjadi negara yang diperhitungkan di kawasan, bertemu dengan sahabat-sahabat Vietnam yang selalu membantu, dan menyayangi keluarganya seperti kerabat. Baginya, Vietnam adalah negara heroik dengan masyarakatnya yang sangat berhati nurani. Ia senantiasa berdoa agar bangsa Vietnam dan Indonesia semakin kuat, dan hubungan erat yang dipupuk dan dipertahankan oleh para pemimpin Vietnam dan Indonesia dan masyarakat kedua negara hingga saat ini akan kian membuahkan hasil. /.

Komentar

Yang lain