Saat ini, Pakistan, Mesir, dan negara-negara Teluk lainnya memainkan peran sebagai "jembatan penghubung" dalam menyampaikan informasi antara AS dan Iran yang terkait dengan putaran negosiasi.

Panorama Teluk Persian yang dilihat dari Bushehr, Iran (Foto: VNA)

Media Israel memberitakan bahwa Iran telah menyatakan serangkaian syarat untuk mengakhiri perang saat ini, termasuk penghentian konflik, penutupan pangkalan militer AS di Timur Tengah, dan penggantian rugi akibat perang bagi Teheran. Namun, informasi tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Iran.

Pada hari yang sama, Presiden AS, Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan sementara serangan terhadap beberapa pembangkit listrik Teheran selama 5 hari.

Sementara itu, Komando Pusat AS di Timur Tengah (CENTCOM), pada Senin malam (23 Maret) mengumumkan bahwa pasukan mereka terus melakukan serangan presisi terhadap sasaran-sasaran militer Iran. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa angkatan udara negara ini telah menyerang markas keamanan utama dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta pasukan gerilyawan paramiliter Basij di wilayah Ibu Kota Teheran.

Tanker minyak LPG yang sedang berlabuh ketika jumlah kapal yang beraktivitas di Selat Hormuz turun di konteks terjadi konflik AS dan Israel terhadap Iran (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)

Sebaliknya, Iran melancarkan 5 serangan dengan rudal balistik terhadap Israel Tengah dan Israel Selatan. Pada hari yang sama, Dewan Pertahanan Iran menyatakan negara ini akan menempatkan ranjau laut di semua jalur maritim di Teluk Persian apabila wilayah perairan atau pulau-pulaunya diserang.

Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Rusia mengimbau adanya solusi politik dan diplomatik untuk menghentikan konflik di Timur Tengah. Pada hari yang sama, di depan Parlemen, Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi berkomitmen melaksanakan semua upaya diplomatik pun untuk bersama-sama dengan komunitas internasional mengurangi ketegangan di sekitar Selat Hormuz.