Berbicara di depan kalangan pers di sela-sela Konerensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 yang sedang berlangsung di Cebu, Filipina, Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn mengatakan bahwa Myanmar telah menyatakan keinginan untuk mendorong normalisasi hubungan dengan ASEAN. Namun, negara-negara anggota ASEAN menganggap bahwa Myanmar harus terlebih dahulu menunjukkan kemajuan nyata dalam pengurangan konflik, mendorong dialog dengan pihak-pihak terkait, dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan.

Pada hari yang sama (7 Mei), Menlu Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan bahwa ASEAN belum menyetujui partisipasi pimpinan Myanmar pada agenda-agenda KTT ASEAN karena kekhawatiran mengenai ketidakstabilan yang berkepanjangan di Myanmar. Meskipun demikian, ASEAN akan tetap mempertahankan saluran komunikasi terbuka, menjaga kontak, dan memantau perkembangan di Myanmar secara ketat.

Sebelumnya, pimpinan Myanmar tidak diundang untuk berpartisipasi dalam agenda-agenda dalam rangka KTT ASEAN sejak gejolak politik tahun 2021. Pada awal tahun 2026, Myanmar telah mengadakan pemilihan umum tiga tahap, dan Parlemen telah memilih Min Aung Hlaing sebagai Presiden. Penyempurnaan aparatur pemerintah diharapkan dapat memfasilitasi stabilisasi bertahap Myanmar dan reintegrasinya ke ASEAN di masa mendatang.