Dalam pidatonya setelah sidang tersebut, Ketua Fed, Kevin Warsh menegaskan kembali target untuk membawa inflasi kembali ke tingkat 2 persen. Ia menekankan bahwa Fedk tidak memiliki target inflasi “lunak” apa pun. Para ahli menilai bahwa tekanan terhadap Fed tengah meningkat seiring tingginya harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Sementara itu, tarif impor baru yang diterapkan pemerintah pimpinan Presiden Donald Trump berisiko meningkatkan biaya barang. Tetapi, para ekonom menilai bahwa kenaikan suku bunga akan sulit mengatasi masalah yang bersifat geo-politik seperti konflik di Iran atau risiko gangguan pasokan minyak.

Segera setelah keputusan Fed diumumkan, dalam sesi perdagangan pada 29 Juli, waktu setempat, pasar saham AS anjlok ketika imbal hasil obligasi melonjak. Sementara itu, lonjakan harga minyak semakin memicu kekhawatiran akan inflasi.