Berbicara di radio France Inter (Perancis), Birol menekankan ini adalah “krisis terbesar dalam sejarah”. Hal ini disebabkan karena dampak lonjakan tajam harga minyak dan gas bakar. Kondisi ini diperparah oleh dampak dari konflik Rusia-Ukraina sebelumnya.
Konflik di Timur Tengah telah sangat mengganggu kelancaran transportasi melalui Selat Hormuz, jalur air strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak bumi dan gas alam cair global. Kemacetan di wilayah ini meningkatkan risiko gangguan pasokan, mendorong kenaikan harga energi secara keseluruhan. Krisis ini terjadi di saat Eropa yang belum sepenuhnya pulih dari gangguan pasokan gas bakar dari Rusia akibat konflik di Ukraina, membuat pasar energi internasional semakin rentan.
Menanggapi lonjakan harga minyak yang cepat dan tajam, pada bulan lalu, IEA sepakat untuk melepaskan cadangan minyak strategisnya dalam jumlah rekor, yakin sebanyak 400 juta barel. Langkah ini diambil untuk menstabilkan pasar.
