Para utusan peserta sesi-sesi diskusi tersebut (Foto: Anh Huyen)

Para utusan menegaskan bahwa musibah dan krisis bencana menjadi tantangan-tantangan besar yang tidak bisa diatasi secara terpisah oleh masing-masing negara. AP 11 merupakan peluang bagi semua negara untuk memberikan ilham dan saling belajar pada saat dunia sedang menghadapi bencana dan musibah yang semakin meningkat. Oleh karena itu, konferensi tersebut perlu membentuk satu jaringan, bersama-sama menyumbangkan tenaga demi keselamatan kehidupan masyarakat di kawasan Asia-Pasifik.

“Timor Leste merupakan satu negara muda, satu pulau kecil yang terletak di tengah kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Lembaga Palang Merah Timor Leste melihat bahwa usaha menghadapi situasi darurat, musibah, krisis bencana pun juga menuntut upaya kolektif, dari semua mitra di semua tingkat, nasional, dan internasional”.

“Perubahan iklim dan semua krisis akibat perubahan iklim telah menjadi masalah-masalah yang kian mendesak terhadap Malaysia selama beberapa tahun belakangan ini. Proses nasionalisasi yang cepat telah meningkatkan frekuensi dan kepadatan musibah sehingga menimbulkan cuaca yang sengit. Lembaga Palang Merah Malaysia berkomitmen memperkuat tindakan, memanfaatkan hubungan yang erat dengan komunitas daerah, bersedia menyiapkan dan mengkonservasikan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati”.

Konferensi tersebut mengeluarkan tujuh prinsip utama dari Gerakan Palang Merah-Bulan Sabit Merah Internasional, mendorong kerja sama dan konektivitas serta meningkatkan persahabatan antarlembaga nasional, menangani masalah-masalah yang menjadi minat bersama dan bersinergi menyusun strategi-strategi kemanusiaan.