Pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Arab Saudi memberitahukan bahwa Riyadh berharap kesepakatan ini akan menimbulkan pelaksanakan Resolusi 1701 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), membela kedaulatan, keamanan dan kestabilitas di Lebanon serta memulangkan para pengungsi ke rumahnya secara aman. Yordania menyatakan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah akan mendorong upaya-upaya internasional untuk menghentikan konflik di Jalur Gaza. Mesir, Irak, Uni Emirat Arab dan Iran juga menyambut gencatan senjata dan berharap agar kesepakatan ini akan menghentikan selama-lamanya tindakan-tindakan permusuhan.

Khususnya, Gerakan Hamas di Jalur Gaza dan Gerakan Houthi di Yaman, dua pasukan yang pernah berkonfrontasi dengan Tentara Israel juga menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran di Lebanon.

Pada pihak pemimpin Lebanon, dalam pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Jode Biden pada tgl 26 November, Perdana Menteri (PM) sementara Lebanon, Najib Mikati mendeskripsikan gencatan senjata dengan Israel sebagai “langkah esensial untuk menuju ke perdamaian dan stabilitas”. Sementara itu, Pemerintah Palestina menyambut gencatan senjata selama 60 hari di Lebanon dan menyatakan harapan bahwa kesepakatan ini akan membawa stabilitas di kawasan, bersamaan itu, menekankan perlunya melaksanakan satu resolusi PBB tentang gencatan senjata di Jalur Gaza.

Juga pada tgl 27 November, Afrika Selatan, India menyambut gencatan senjata Israel-Hezbollah, berharap agar kesepakatan ini akan mengurangi ketegangan dan membawa perdamaian di kawasan.