Menteri Perminyakan Kuwait, Bader al Mulla menegaskan, keputusan OPEC+ berdasar pada data pasar minyak tambang dan bertujuan menjamin stabilitas pasar ini.
Pada bulan Oktober, OPEC+ menimbulkan pendapat yang kontroversial ketika mengumumkan keputusannya untuk memangkas hasil produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari, setara dengan 2% kebutuhan dunia, berlaku mulai November 2022 hingga akhir 2023. Amerika Serikat menuduh OPEC+ dan salah satu negara yang memimpin kelompok, yaitu Arab Saudi berpihak pada Rusia. Namun, OPEC+ berargumen bahwa alasan memangkas hasil produksi ialah karena prospek ekonomi global yang melemah.
Sebelumnya, pada tgl 3 Desember, pemerintah negara-negara anggota Uni Eropa mengesahkan secara tertulis terhadap pagu harga sebanyak 60 USD per barel bagi minyak ekspor Rusia.
