(VOVworld) – Kira-kira 25% wirausaha di Inggeris memberitahukan bahwa kaum pekerja dari negara-negara anggota Uni Eropa lain yang sedang bekerja di “negeri enbun” telah mempertimbangkan meninggalkan perusahaan-nya atau negeri Inggeris pada tahun 2017 setelah referendum yang menentuk hal negara ini meninggalkan Uni Eropa pada bulan Juni tahun lalu (atau Brexit).

Ilustrasi
(Foto:dailymail.co.uk/baomoi.com)
Pada latar belakang Perdana Menteri (PM) Inggeris, Therasa May berkomitmen mengontrol secara lebih erat migran setelah Brexit, direncanakan akan selesai pada tahun 2019, tanpa memperdulikan hal ini berarti bahwa Inggeris kehilangan hak mendekati pasar umum Eropa. CIPD menyatakan data-data statistik baru-baru ini memberitahukan bahwa kaum majikan yang bergantung pada orang migran dari Uni Eropa sedang bergulat untuk mengisi kekosongan setelah pekerja pulang ke Tanah Air-nya.
