Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto :VNA)

Hadir di RDRK untuk memantau proses penghancuran lapangan uji cona nuklir Punggye-ri, wartawan Will Ripley, Kantor Berita CNN, AS menilai bahwa saat Presiden Donald Trump menyatakan membatalkan pertemuan puncak yang telah direncanakan dengan pemimpin Kim Jong-un, semua kepercayaan yang baru saja dibangun oleh AS dan RDRK telah runtuh sepenuh-nya. Sementara itu, portal striteer Slate.com dari AS mengomentari bahwa pernyataan Presiden Donald Trump menunjukan kurangnya ada rasa hormat dari Washington terhadap Republik Korea - Negara yang telah memainkan peranan positif primer dalam mengatur pertemuan puncak yang bersejarah ini.

Tapi, pakar Dmitry Mosyakov dari Institut Ketimuran, Rusia memberikan pendapat yang sebaliknya. Ketika berbicara kepada website Sputnik, Mosyakov menganggap bahwa gerak-gerik pernyataan Presiden Donald Trump adalah bisa diduga sebelum-nya, karena AS mempertahankan dua pandangan terhadap RDRK. Pertama yalah membentuk hubungan dan memberikan pengaruh terhadap rezim dengan bantuan. Kedua yalah meningkatkan sanksi dengan tujuan menggulingkan kekuasaan. Menurut dia, pandangan yang kedua lebih unggul. Dengan melanjutkan latihan perang gabungan dengan Republik Korea yang lalu, Washington telah memanifestasikan tidak ingin mendekati Pyong Yang.