Dengan keputusan ini, Prancis merupakan negara Barat yang ke-3 setelah Amerika Serikat dan Inggris membolehkan tentara Ukraina bisa menggunakan rudal-rudal jarak jauh yang disuplai oleh negara-negara tersebut untuk menyerang jauh wilayah Rusia, alih-alih diperbatasi di kawasan-kawasan Ukraina di mana terjadi konflik seperti dulu.

Selain itu, Menlu Prancis, Jean-Nobel Barrot juga mengimbau Barat supaya jangan menyampaikan “garis-garis merah” dalam masalah memberikan bantuan bagi Ukraina, bersamaan itu menekankan bahwa Prancis akan tidak menghapuskan pilihan apapun dalam membantu Ukraina serta selalu mempertahankan pandangan “terbuka” dalam memasukkan Ukraina ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).