Sebelumnya, pada 24 September, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan bahwa melalui pihak-pihak perantara, Teheran telah menyampaikan kepada Washington sebuah rencana selama tujuh hari untuk membuka kembali selat tersebut. Menurut usulan tersebut, Teheran akan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dan melanjutkan perundingan mengenai program nuklir jika AS mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan pembatasan terhadap kegiatan ekspor minyak Iran, membebaskan aset-aset Iran yang saat ini dibekukan, serta mematuhi gencatan senjata, termasuk penghentian operasi militer Israel di Lebanon.

Sementara itu, pemimpin AS menganggap bahwa ketentuan yang disampaikan Iran “tidak dapat diterima” dan Teheran mengajukan usulan tersebut karena menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar.

Dalam keterangannya kepada kalangan pers regional pada 26 September, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Iran “tidak mempercayai pihak AS dan tidak tahu atas dasar apa kesepakatan dengan mereka dapat dicapai”.