Dia menekankan bahwa RDRK “tidak harus melakukan perundingan langsung dengan AS” karena Washington hanya menganggap dialog dengan Pyang Yang sebagai “satu instrumen untuk tujuan politiknya”. Pernyataan tersebut dikeluarkan sehari setelah mantan Penasehat Keamanan Nasional AS, John Bolton memberitahukan bahwa Presiden Donald Trump bisa menemui pemimpin RDRK, Kim Jong-un bagaikan “satu keheranan pada Oktober”.

Pernyataan dari para pihak ini dikeluarkan pada latar belakang ini sedang ada prakiraan-prakiraan tentang satu pertemuan puncak AS-RDRK yang lain ketika Presiden Republik Korea, Moon Jae-in memberitahukan akan mendorong satu pertemuan seperti itu menjelang pemilihan di AS.