Pemimpin RDRK, Kim Jong-un (kiri) dan Presiden Donald Trump pada Pertemuan Puncak di Singapura pada tahun lalu (Foto: VNA)

Menurut Kantor Berita Sentral Korea “KCNA”, juru bicara tersebut juga membantah penilaian Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo bahwa 80% perekonomian RDRK terkena dampak dari sanksi-sanksi itu. Dia menganggap bahwa tindakan pengenaan sanksi AS untuk menimbulkan tekanan tidak berubah, tetapi dilakukan menurut arah yang lebih negatif. Menurut dia, tercapainya denuklirisasi akan sangat sulit kalau gelanggang politik AS masih ada banyak penentu kebijakan yang mempertahankan pendirian permusuhan terhadap RDRK. Juru bicara RDRK menekankan bahwa Pyong Yang akan tidak memberi konsesi menghadapi sanksi-sanksi Washington dan RDRK bukan negara yang mudah diserang kalau AS menginginkan.