Pada pembicaraan telepon tersebut, dua pihak membahas masalah-masalah bilateral yang mendesak, di antaranya ada kontak militer dan situasi di kawasan Timur Tengah. Pembicaraan telepon tersebut berlangsung pada latar belakang ada semakin banyak kecemasan bahwa situasi Timur Tengah sedang semakin memburuk, setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump baru saja menandatangani satu dekrit mengakui kedaulatan Israel terhasap Dataran Tinggi Golan, hampir 4 bulan setelah AS mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel.
Sebelumnya, pada tanggal 27/2 lalu, Presiden Vladimir Putin dan PM Benjamin Netanyahu telah melakukan perbahasan di Moskow, Ibukota Rusia. Setelah perbahasan ini, Presiden Vladimir Putin memberitahukan bahwa satu kelompok pakar urusan masalah Suriah yang terdiri dari Rusia, Israel dan beberapa negara lain bisa memecahkan masalah normalisasi situasi di Suriah, setelah kelompok-kelompok teroris di negara Timur Tengah ini dibasmi sepenuhnya.
