Para serdadu Myanmar (Foto: Antara/ Reuters) |
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Indonesia, Teuku Rezasyah, menilai bahwa perihal ASEAN tidak mengundang tentara Myanmar tetapi hanya mengundang wakil non-politik dari Myanmar untuk menghadiri KTT ASEAN telah membuat Myanmar harus merenung dan menghadapi sendiri situasi yang cenderung memburuk dari tanah air. Sarjana Indonesia itu menganggap bahwa keputusan ASEAN untuk tidak mengundang pimpinan tentara Myanmar, Marsekal Min Aung Hlaing adalah tepat.
Dengan pandangan yang sama, pengamat hukum internasional Hikmahanto Juwana dari Universitas Indonesia menganggap bahwa ASEAN tidak perlu mengundang Myanmar, bahkan termasuk satu pihak non-politik, untuk menghadiri KTT tersebut. ASEAN perlu mendengarkan laporan dari para utusan khusus dan mempertahankan pendiriannya. Menurut dia, situasi saat ini merupakan tantangan terhadap ASEAN, khususnya dalam latar belakang ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Tiongkok beserta potensi intervensi dari koalisi keamanan Amerika Serikat, Australia, dan Inggris (AUKUS). Sementara itu mekanisme aktivitas ASEAN berdasarkan pada prinsip musyawarah dan mufakat.

