Dalam pidatonya, Sekjen sekaligus Presiden To Lam membagikan sudut pandang Vietnam mengenai tiga masalah: Tanggung jawab atas berbagai perubahan di dunia, Hal-hal yang membawa Vietnam dan AS dari masa lalu hingga mencapai hubungan saat ini serta Tanggung jawab bersama untuk membawa hubungan antara kedua negara melangkah lebih jauh pada masa depan.
Mengenai hubungan bilateral Vietnam-AS, Sekjen sekaligus Presiden To Lam menekankan bahwa berbagai perubahan dunia saat ini menuntut kedua negara harus melihat lebih jauh dari apa yang telah dicapai. HubunganVietnam-AS perlu memberikan kontribusi yang lebih praktis pada target pembangunan, keamanan dan kemakmuran di masing-masing negara.
“Vietnam menghargai dan siap berdiskusi mengenai perhatian AS terkait neraca perdagangan, akses pasar, asal-usul barang, hak kekayaan intelektual, dan keamanan rantai pasokan. Pada saat yang sama, Vietnam berharap kedua pihak menjamin lingkungan perdagangan yang stabil dan dapat diprediksi; memfasilitasi aliran barang, jasa, dan investasi satu sama lain; memperluas kerja sama teknologi, serta membantu pelaku usaha Vietnam berpartisipasi lebih dalam dalam rantai nilai.”
Sekjen sekaligus Presiden To Lam menekankan bahwa Vietnam akan terus bekerja sama secara positif dan efektif dalam mencari serdadu AS yang hilang dalam tugas perang di Vietnam. Bersamaan dengan itu, Beliau menginginkan agar AS terus mendampingi dalam penanganan dampak diokxin, pembersihan sisa-sisa bom dan ranjau, dukungan bagi penyandang disabilitas; berbagi arsip medan perang, informasi dokumen, dan mendukung identifikasi DNA untuk "Kampanye Lima Ratus Hari Siang dan Malam" dalam mencari, mengumpulkan, dan mengidentifikasi kerangka para martir Vietnam.
Sehubungan dengan kesempatan ini, di Markas Besar EPA, Perwakilan asosiasi tersebut dengan hormat menganugerahkan “Medali FPA” kepada Sekjen sekaligus Presiden To Lam, sebuah penghargaan yang memuliakan semangat internasional yang bertanggung jawab.
