Laporan tersebut juga mencatat bahwa Vietnam merupakan salah satu dari sedikit negara ekonomi di luar Uni Eropa yang telah lebih awal memberlakukan kerangka hukum yang komprehensif mengenai AI pada tahun 2025. Vietnam menerapkan model klasifikasi berbasis tingkat risiko yang serupa dengan Uni Eropa. Langkah ini dinilai sebagai strategi penting untuk mengelola sistem AI secara aman dan transparan.

Selain itu, Vietnam juga menjadi mata rantai penting dalam rantai pasok teknologi global. Vietnam termasuk dalam lima negara berkembang yang menjadi pengekspor utama produk-produk yang digunakan untuk membangun sistem AI, bersama Tiongkok, Meksiko, Malaysia dan Thailand.

Selain itu, Vietnam juga menjadi mata rantai penting dalam rantai pasok teknologi global. Vietnam termasuk dalam lima negara berkembang pengekspor utama produk-produk yang digunakan untuk membangun sistem AI, bersama Tiongkok, Meksiko, Malaysia, dan Thailand.

AI membuka peluang bagi Vietnam untuk mempercepat proses pembangunan sekaligus memperkuat posisinya di peta teknologi dunia. Dengan kebijakan yang proaktif, Vietnam dinilai telah menempuh langkah yang tepat. Namun, agar AI benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, Gaurav Nayyar, Direktur Laporan Pembangunan Dunia 2026, menilai Vietnam perlu memprioritaskan pembangunan infrastruktur energi, konektivitas, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, serta penguatan kelembagaan.