Namun, mendapatkan pesanan tidak serta-merta berarti pelaku usaha di dalam negeri telah berhasil memasuki rantai pasokan. Kesenjangan tersebut terletak pada teknologi, tata kelola, sumber daya manusia, standar teknis, hingga ketersediaan lahan produksi yang memadai. Kota Hai Phong tengah mengusahakan solusi atas persoalan tersebut melalui pengembangan industri pendukung, pembinaan pelaku usaha serta peningkatan konektivitas antara dua sektor tersebut.
Kota Hai Phong memiliki fondasi industri pengolahan dan manufaktur yang berkembang pesat, ditunjang sistem zona ekonomi, zona industri, serta infrastruktur pelabuhan laut dan logistik yang relatif tersinkronisasi. Kehadiran berbagai grup perusahaan FDI di beberapa sektor seperti elektronik, otomotif, permesinan, dan garmen menciptakan kebutuhan pasokan yang besar secara langsung di tingkat lokal. Tran Van Thang, Ketua Asosiasi Pengusaha Kota Hai Phong menyatakan:
“Kita tidak hanya memperhatikan jumlah pelaku usaha FDI, tetapi juga fokus pada persentase peningkatan tingkat lokalisasi. Selain itu, penting untuk melihat bagaimana komunitas pelaku usaha domestik dapat berpartisipasi, bagaimana logistik pintar diterapkan, serta bagaimana data digunakan. Investor harus membawa teknologi, tata kelola, inovasi kreatif, dan standar- yang tinggi, serta mampu merangkul pelaku usaha lokal untuk bersama-sama terlibat dalam rantai pasokan tersebut”.
Selama ini, Kota Hai Phong telah menyelenggarakan berbagai kegiatan penyelarasan penawaran dan permintaan, mendukung peningkatan kapasitas produksi, memperbarui teknologi, serta membantu pelaku usaha untuk memenuhi persyaratan teknis dari sejumlah grup investor. Pada tanggal 23 Juli 2026, Komite Rakyat Kota Hai Phong mengesahkan Program Pengembangan Industri Pendukung Periode 2026-2035. Program tersebut memprioritaskan lima kelompok sektor, yaitu elektronik, industri teknologi tinggi, manufaktur mekanis, otomotif, serta germen dan alas kaki. Selain itu, program ini juga berfokus mendukung pelaku usaha dalam meningkatkan keterampilan tata kelola, pelatihan sumber daya manusia, penelitian, inovasi kreatif dan transfer teknologi.
Arus modal FDI tengah bergeser ke arah yang lebih mengutamakan kualitas sumber daya manusia, kapabilitas teknologi, infrastruktur, serta ekosistem pelaku usaha lokal. Oleh karena itu, persaingan dalam menarik investasi bukan sekadar soal insentif atau biaya produksi yang rendah. Ini juga menjadi pendekatan baru dalam menyerap modal FDI, yang secara bertahap beralih pada kualitas dan dampak pengganda. Ekonom Nguyen Canh Cuong, Dosen Universitas Ekonomi, Universitas Nasional Hanoi menilai:
“Kita berhasil menjadi pusat produksi besar, namun pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita mampu bangkit menjadi negara industri dalam rantai nilai global? Vietnam akan menjadi negara maju berbasis industri, di mana FDI generasi baru memainkan peran yang sangat penting”.
Resolusi 10-NQ/TW tanggal 8 Juni 2026 dari Politbiro mengenai pengembangan ekonomi yang berorientasi investasi asing juga menitikberatkan pada kualitas, efisiensi, transfer teknologi, kemampuan berpartisipasi dalam rantai pasokan, serta keterkaitan dengan pelaku usaha domestik. Bagi Kota Hai Phong, semangat tersebut baru akan membuahkan hasil nyata ketika jarak antara pabrik FDI dan pelaku usaha lokal dipersempit melalui pesanan konkret, tim teknis yang memenuhi kualifikasi, serta ketersediaan lahan produksi yang memadai. Ketika semakin banyak komponen, suku cadang dan layanan dapat dipasok langsung di tingkat lokal, arus modal FDI baru benar-benar dapat memperkuat kapasitas sektor bisnis dalam negeri dan memperkuat fondasi industri kota Hai Phong.
