Para perempuan etnis minoritas Nung Phan Slinh di daerah permukiman Hop Tan tetap melestarikan kerajinan tradisional menjahit, menyulam dan menenun kain brokat seperti cara mereka melestarikan warisan budaya etnisnya. Setiap garis benang dan setiap motif bukan sekadar diciptakan menciptakan sebuah buasana, tetapi juga melestarikan gaya hidup, adat istiadat dan jiwa masyarakat etnis minoritas Nung di wilayah Dong Bac (Timur Laut), Vietnam Utara.
Dalam sebuah rumah kecil yang terletak jauh di dalam daerah permukiman Hop Tan, Kecamatan Ky Lua, Provinsi Lang Son, para perempuan Nung Phan Slinh dengan rajin bekerja di atas lembaran-lembaran kain indigo. Ada yang menyulam motif secara manual, ada pula yang menenun dengan alat tenun tradisional dan menjahit dengan mesin. Di tengah ruang ini, suasana selalu ceria dan ramai.
Meskipun kehidupan perkotaan semakin berkembang, beberapa keluarga masyarakat etnis minoritas Nung di sana tetap melestarikan kebiasaan menggunakan busana tradisional pada berbagai festival, hari raya, acara pernikahan dan kegiatan budaya masyarakat.
Ha Thi Thom, seorang perajin di daerah permukiman Hop Tan, Kecamatan Ky Lua, Provinsi Lang Son, yang telah lebih dari 40 tahun menjalankan kerajinan menjahit pakaian tradisional etnis minoritas Nung Phan Slinh menuturkan:
“Saat ini, masyarakat etnis minoritas Nung tetap membuat selendang untuk digunakan saat pergi ke pasar atau festival. Tas yang besar digunakan saat menghadiri festival, sedangkan yang kecil dipakai sehari-hari”.
Masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh terkenal dengan pakaiannya yang berwarna nila tua. Di atas kain indigo tersebut disulam motif-motif secara manual yang indah dan seimbang. Motif-motif tersebut terinspirasi dari alam, hutan dan gunung, bunga, daun serta kehidupan sehari hari. Untuk menyelesaikan satu set buasana tradisional, seorang perajin membutuhan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Kerajinan tradisional tersebut telah melekat lama dalam kehidupan masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh. Sejak beranjak dewasa, mereka telah diwarisi keahlian ini oleh leluhur dan terus dilestarikan hingga sekarang. Bukan sekadar hadir dalam kehidupan sehari-hari, pakaian-pakaian hasil tenunan tangan masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh kini juga menjadi produk budaya yang menarik bagi para wisatawan.
Banyak wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Lang Son membeli selendang, tas brokat atau baju indigo sebagai buah tangan yang kental dengan identitas daerah pegunungan. Nguyen Viet Dung, seorang wisatawan asal Kota Hanoi, setelah mengunjungi tempat pameran produk kain indigo dari masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh di Provinsi Lang Son, menuturkan:
“Saya sangat kagum dengan motif-motif yang sangat indah dan semuanya dibuat secara manual. Saya terkesan dengan proses pembuatan ini, baik dari segi kecerdasan, tenaga maupun keterampilannya. Menurut saya, jika kain sulaman tangan seperti ini dibingkai agar dapat dijual kepada wisatawan untuk dipajang di rumah, maka nilai produknya akan meningkat secara signifikan”.
Di tengah arus kehidupan modern yang serbacepat, desa kerajinan tradisional sulam tangan masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh di Provinsi Lang Son menjadi daya tarik unik bagi para pecinta kebudayaan tradisional yang datang berkunjung untuk belajar maupun mempromosikannya. Ho Thi To Uyen, Wakil Ketua Komite Rakyat Kecamatan Ky Lua, Provinsi Lang Son menuturkan:
“Produk kerajinan tradisional sulam pakaian Nung Phan Slinh belum banyak dipasarkan. Di masa mendatang, pihak kecamatan akan menjalankan beberapa rencana dan solusi seperti menyediakan ruang khusus agar para rumah tangga dapat memproduksi langsung bersama para wisatawan. Dengan demikian, wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman proses menyulam kain, menenun dan membordir. Melalui upaya tersebut, dari segi komunikasi, kami akan mengangkat kisah-kisah di balik setiap produk agar saat berkunjung, wisatawan bisa mengerti makna dari setiap produk buatan masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh di daerah setempat”.
Ada nilai-nilai yang tidak dapat diukur dengan uang. Itu adalah memori budaya dan kisah sebuah komunitas yang disampaikan melalui berbagai motif di setiap baju, selendang atau tas. Selama suara alat tenun kain, jarum jahit, dan motif tersebut tetap eksis di daerah pegunungan berbatu bumi Lang, maka warna nila masyarakat etnis minoritas Nung Phan Slinh akan terus diwariskan kepada generasi-generasi di kemudian hari.
