Kisah di Kecamatan Ta Xua, Provinsi Son La adalah salah satu contoh nyatanya. Dari tempayan pewarna nila, kain linen dan tangan-tangan terampil masyarakat etnis minoritas Mong, sebuah kerajinan tradisional kini dihidupkan kembali dan menjadi pengalaman yang menarik bagi para wisatawan.

Bagi masyarakat etnis minoritas Mong di Kecamatan Ta Xua, pewarnaan nila bukan sekadar menciptakan warna biru yang khas pada kain. Di balik lapisan warna nila tersebut tersimpan motif-motif yang dilestarikan secara turun-temurun. Setiap garis sulaman dan hiasan membawa rekam jejak kehidupan masyarakat etnis minoritas Mong, sekaligus menjadi penanda asal-usul dan identitas budaya mereka.

Thao A Trong, seorang pelestari kerajinan pewarnaan nila tradisional etnis minoritas Mong di Kecamatan Ta Xua menuturkan:

Setiap tempat memiliki adat istiadat yang berbeda. Di Kecamatan Ta Xua, masyarakat etnis minoritas Mong hitam dan Mong Si adalah dua marga yang berbeda, tetapi teknik menyulam mereka serupa. Motifnya saja yang berbeda. Hanya dengan melihat motif pada pakaian, kita sudah bisa membedakan dua marga etnis minoritas Mong tersebut”.

Proses mewarnai sehelai kain indigo bukanlah hal yang sederhana. Sejak tahap perendaman, semuanya harus diperhitungkan secara teliti agar menghasilkan warna yang paling indah dan tahan lama. Nguyen Trong Thinh, pendiri sekaligus pemandu di Sanggar Pewarnaan Nila Ta Xua Provinsi Son La, mengatakan:

“Saat kami baru menyiapkan wadah pewarna nila, prosesnya tidak bisa langsung dilakukan seperti bahan pewarna lain, melainkan membutuhkan waktu. Untuk mencapai kualitas terbaik dan warna yang paling indah, dibutuhkan waktu hingga satu bulan sebelum kain bisa diproduksi dan diwarnai dalam jumlah besar. Jika waktunya sudah pas, warna produk bisa bertahan hingga puluhan tahun tanpa pudar”.

Saat ini, setiap bulannya Sanggar Pewarnaan Nila Ta Xua memproduksi sekitar 100 produk dan menyambut kedatangan puluhan wisatawan. Skalanya memang belum besar, tetapi cukup untuk meyakinkan para pelestari kerajinan tradisional di kampung halaman bahwa mereka tengah melangkah ke arah yang tepat.

Jika dahulu wisatawan datang ke Kecamatan Ta Xua hanya untuk menyambut fajar di tengah lautan awan atau menaklukkan Punggung Dinosaurus, kini perjalanan mereka memiliki persinggahan baru. Mereka duduk di sanggar pewarnaan nila, mendengarkan kisah tentang tanaman nila, lalu mencelupkan sendiri kain putih ke dalam tempayan pewarna. Sebuah pengalaman sederhana, tetapi cukup untuk makin memahami kehidupan masyarakat etnis minoritas Mong. Usai mencoba langsung proses pewarnaan nila masyarakat etnis minoritas Mong di Kecamatan Ta Xua, Ta Nhung, seorang wisatawan asal Kota Hanoi membagikan kesannya:

“Saya sangat terkesan dengan proses pewarnaan nila. Kain putih yang dicelupkan ke dalam larutan nila akan berubah warna menjadi kain dengan warna nila yang sangat khas. Bahan-bahan alami ini berhasil menciptakan warna yang unik dan khas pada pakaian tradisional masyarakat etnis minoritas Mong”.

Tanpa suara dan tidak memasarka, tapi kerajinan pewarnaan nila di Ta Xua (Provinsi Son La) kini terus dihidupkan oleh para pemuda lewat ritme keseharian desa. Berlandaskan nilai-nilai asli tersebut, kerajinan tradisional ini diyakini tidak akan pernah pudar.