Di tengah arus modernisasi, Nam O tetap mempertahankan ciri rustik, tenang dan damai dari sebuah desa nelayan kuno. Di sana, lintas generasi setiap hari menyaring tetesan murni kecap ikan yang memiliki rasa asin dari laut dan rasa manis dari tangan pekerja keras.
Jalan pesisir yang membentang di Desa Nam O (Kecamatan Hai Van, Kota Da Nang) dulu, kini telah menjadi zona wisata modern. Namun di balik kemewahan itu, masih ada denyut kehidupan damai yang tak berubah. Setiap sore, suasana persiapan mengarungi laut kembali ramai di salah satu sudut pantai. Ada yang menyiapkan jaring, ada yang memperbaiki kapal, dan ada sekelompok nelayan yang berbincang di tengah suara tawa anak-anak yang sedang bermain. Mereka berbicara tentang laut, perjalanan menangkap ikan di sekitar pantai, serta udang dan ikan hasil tangkapan yang akan dibawa pulang.
Menurut masyarakat Nam O, tradisi membuat kecap ikan telah lahir sejak abad ke-19. Meskipun mengalami pasang surut, generasi ke generasi tetap gigih mempertahankannya. Resep rahasia yang membangun merek kecap ikan Nam O sebenarnya sangat sederhana, yaitu ikan dan garam. Ikan teri hitam dengan ukuran pas – terutama ikan yang ditangkap pada bulan tiga atau keempat kalender imlek – akan menghasilkan cita rasa kecap ikan yang lebih lezat. Ikan ini difermentasi dengan garam Sa Huynh (Quang Ngai) dalam tempayan keramik Lai Thieu (Binh Duong) selama 12 hingga 18 bulan. Phan Thi Ngoc Bich, perajin generasi keempat, mengatakan:
“Perbandingan garam dan ikan harus seimbang. Semakin segar ikannya, kecap ikan semakin jernih dan warnanya indah. Dulu, di desa ini ada banyak rumah tangga yang membuat kecap ikan. Tapi sekarang hanya sekitar seratus rumah tangga. Jika tidak terus dijalankan, kerajinan membuat kecap ikan yang diwariskan leluhur kami akan hilang”.
Meskipun musim ikan teri hitam hanya ada dua kali dalam setahun, proses pembuatan satu kelompok kecap ikan Nam O menuntut perawatan tekun sepanjang tahun. Mulai dari melindunginya dari hujan dan sinar matahari, mengaduknya setiap hari, hingga menyaring tetesan kecap ikan yang berwarna keemasan. Semuanya mencerminkan dedikasi dan rasa cinta masyarakat Nam O terhadap tradisi ini. Tran Ngoc Vinh, Ketua Desa Kerajinan Tradisional Kecap Ikan Nam O menuturkan:
“Kini, di desa kami sudah ada 5 anggota yang mencapai standar OCOP (Satu Kecamatan Satu Produk) dan tiga koperasi. Setiap tahun, kami memproduksi rata-rata 300 ribu liter kecap ikan. Saya ingin memperkenalkan proses pembuatan kecap ikan Nam O kepada wisatawan domestik maupun mancanegara, agar mereka dapat melihat langsung kualitas, kuantitas, dan cara pembuatannya tradisional dan manual. Di samping itu, kerajinan membuat kecap ikan juga mendapat perhatian dari World Vision, Organisasi Visi Dunia. Berbagai rombongan dari Singapura dan Thailand pun datang untuk berkunjung, berbagi informasi, serta belajar dari pengalaman”.
Sambil menunggu kecap ikan matang selama 12 bulan, masyarakat Nam O melakukan berbagai aktivitas melaut lainnya serta membuat beragam jenis olahan kecap yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini sekaligus menjaga ritme aktivitas yang tenang dari sebuah desa nelayan pesisir. Huynh Thi He mengatakan:
“Hanya ikan teri hitam yang bisa menghasilkan warna kecap seindah ini. Saya sudah menekuni kerajinan ini selama lebih dari tiga puluh tahun, jadi saya sangat mencintainya. Saya membuat kecap ikan untuk dijual sepanjang tahun”.
Pada hari-hari ketika laut Nam O belum menyambut kawanan ikan teri hitam, batu-batu karang kuno di sini diselimuti lapisan lumut hijau yang lembut. Itu juga menjadi saat antara lapisan lumut, sementara suasana di desa nelayan kian ramai oleh kedatangan wisatawan. Ketika musim lumut berakhir, kapal-kapal yang sarat dengan ikan teri hitam mulai berlabuh di dermaga. Masyarakat Nam O pun kembali sibuk menyaring tetesan kecap ikan gurih yang kental dan kaya akan rasa asin laut dan kisah turun-temurun dari desa nelayan kuno yang berusia ratusan tahun ini.
