Memasuk bulan kedelapan kalender imlek, warga desa kerajinan kue dan manisan Xuan Dinh sibuk membuat kue untuk Festival Pertengahan Musim Gugur – sejenis kue yang disukai banyak keluarga saat Musim Gugur tiba.
Sambil mengaduk beragam bahan isian secara cepat, lalu menguleni dan membagi adonan untuk digilas menjadi kulit kue, Pham Huy Dung, seorang pembuat kue bulan di Kecamatan Xuan Dinh menuturkan bahwa tahap pembuatan isian adalah yang paling penting. Setiap kue dengan berat yang berbeda membutuhkan takaran isian yang disesuaikan dengan ketentuan.
“Mengaduk adonan secara manual membutuhkan kekuatan fisik. Namun, jika diaduk menggunakan mesin, rasa kuenya kurang nikmat. Sejak dulu hingga sekarang, prosesnya tetap dipertahankan seperti ini. Bahan-bahan diaduk sebentar agar semua bahan tercampur rata”.
Setelah isian dimasukkan ke dalam kulit adonan, perajin memasukkannya ke dalam cetakan agar terbentuk sempurna. Sebelum dipanggang, permukaan kue akan dilapisi kuning telur untuk menghasilkan aroma harum serta warna kuning keemasan yang cantik alami. Setelah itu, kue memasuki proses pemanggangan dan diakhiri dengan pengemasan.
“Jika, Kue dibuat terlalu awwal, saat sampai di tangan pelanggan rasanya tidak akan nikmat dan aromanya pun berkurang. Seluruh kue buatan kami tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya bertahan selama 15 hari, sedangkan kue Deo (kue moci) hanya bertahan 5 sampai 7 hari”.
Hal istimewa yang menciptakan keharuman kue bulan Desa kerajinan Xuan Dinh adalah proses persiapan bahannnya. Air bunga jeruk bali yang digunakan untuk menciptakan aroma kue Deo harus disuling sejak awal tahun saat bunga mekar sempurna. Sementara itu, manisan kim quat untuk isian kue Nuong (kue panggang) juga dimasak sejak awal musim semi. Lemak dagingnya pun dipotong dengan tangan agar tidak hancur seperti jika menggunakan mesin. Setiap fasilitas produksi memiliki resep rahasia terun-temurun yang menciptakan keunikan rasa pada produk mereka.
Desa kerajinan Xuan Dinh kini menjadi perpaduan harmonis antara nuansa tradisional dan sentuhan modern. Di samping memproduksi beragam produk tradisional, para perajin dan fasilitas produksi lokal mulai menghadirkan beberapa aroma baru yang sesuai dengan selera modern seperti manisan buah kering, permen jeli buah, atau kue dengan kadar gula sedikit yang baik untuk kesehatan. Produk buatan desa ini tidak hanya didistribusikan secara luas di seluruh negeri, tegapi juga diekpor ke beberapa negara seperti Jepang, Republik Korea, Eropa, dan sebagainya.
Ibu Do Thu Nhuan menyampaikan bahwa selain kue bulan, para pemilik rumah produksi di sini juga membuat kue emping ketan, kue khao (dari tepung beras), kue to (dari tepung ketan dan gula), ting ting, permen wijen, manisan biji teratai, manisan kelapa, manisan labu hijau, dan sebagainya yang masing-masing memiliki rasa khas dan sulit dilupakan oleh para pelanggan.
“Keluarga saya membuat kue tradisional sesuai dengan yang diwariskan oleh para pendahulu. Sekarang, kami membuat beberapa jenis kue untuk melayani kebutuhan masyarakat dengan rasa dan warna yang beragam”.
Perkembangan desa kerajinan telah menciptakan lapangan kerja yang stabil untuk ratusan pekerja di daerah setempat maupun daerah-daerah sekitarnya. Pendapatan yang stabil semakin meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sekaligus turut melestarikan ciri budaya kuliner tradisional dari Ibukota Ha Noi. Selain itu, pemerintah daerah setempat juga berfokus menginvestasikan pengembangan desa kerajinan ke arah yang berkelanjutan, memastikan kebersihan dan keselamatan bahan pangan, melestarikan nilai-nilai budaya, serta membangun merek “Kue dan manisan Xuan Dinh” agar semakin berkembang pesat.
