Pada pekan lalu, kami menerima laporan pemantauan siaran radio dari Saudara Fachri di Pekanbaru, untuk periode 29 Juni hingga 5 Juli pada frekuensi 12020 kHz dengan nilai SINPO 54455, 44444 dan 33333. Sementara itu, dari Nganjuk, Saudara Eko Endri Wiyono mengirimkan laporan pemantauan siaran bulan Juni dengan nilai SINPO 44444 dan 54544. Ada pula Saudara Eddy Setiawan dari Jakarta yang mengirimkan laporan pemantauan siaran radio berupa file video untuk tanggal 4 hingga 5 Juli. Selain laporan-laporan dari para pendengar di “Negeri Ribuan Pulau Indonesia, kami juga menerima hasil pemantauan siaran radio dari para pendengar di India, yaitu Saudara Anand Mohan, Najimuddin, Bidhan Chandra Sanyal, dan Shivendu Paul. Kami sangat senang karena seluruh laporan tersebut menunjukkan bahwa kualitas gelombang relatif stabil pada kedua frekuensi 12020 kHz dan 9840 Khz.
Para pendengar yang budiman, saat memberikan komentar di bawah artikel yang bertajuk “Pembayaran Nontunai Mendorong Perkembangan Pariwisata”, para pendengar mengomentari: “Memudahkan prosedur agar wisatawan merasa sengat nyaman dan tenang”, “Sangat terkesan, wisatawan tanpa membawa banyak uang tunai, dapat memindai kode QR dan dengan mudah membayar pengeluaran serta belanjaannya”, dan “Pembayaran digital turut mendorong konsumsi, model ini perlu disebarluaskan di seluruh Vietnam”.
Di samping itu, artikel-artikel yang isinya memperkenalkan desa kerajinan, cara mereka melestarikan kerajinan tradisional mereka juga menarik banyak perhatian para pendengar di Indonesia. Setelah membaca artikel yang berjudul: “Desa Bau Truc – Tempat Pelestarian Kerajinan Ukir Perak yang Unik dari Masyarakat Etnis Cham”, Saudara Subyarno Tryanto berkomentar: “Cincin perak sangat indah”. Sementara itu, Saudari Yuyu Wahyuni mengomentari: “Pelestarian dan pengembangan kerajinan tradisional bukan sekadar upaya dari para seniman, melainkan butuh kekompakan dari para pelaku bisnis untuk mencari output produk”.
Di sisi lain, Saudara Chandra, dalam surat yang dikirimkan kepada kami berbagi cerita: “Sangat menarik saat mendengarkan artikel tentang Desa Bau Truc dengan kerajinan ukir peraknya yang unik. Dan senang sekali mendengar kabar bahwa pemerintah setempat sedang mengarahkan pelestarian dan penggabungan kerajinan ukir perak ini bersama dengan kerajinan-kerajinan lain ke dalam program pengembangan pariwisata berbasis komunitas”.
Para pendengar yang budiman! Terkait dengan desa-desa kerajinan tradisional, pada pekan lalu, dalam surat yang dikirimkan kepada kami, saudara Himawan di Jakarta bertanya:
“Saat menghadiri berbagai pekan raya internasional atau event pertukaran budaya antarnegara ASEAN, saya melihat Vietnam memamerkan dan memperkenalkan barang-barang kerajinan tangan dengan berbagai gaya dan warna. Di Indonesia, terdapat beberapa desa kerajinan yang diinvestasikan, dilestarikan dan dikembangkan, terutama desa tekstil tradisional. Saya ingin tahu Provinsi mana di Vietnam yang memiliki desa kerajinan terbanyak? Apakah Kota Hanoi memiliki desa tekstil yang terkenal?”.
Kami mengucapkan terima kasih atas pertanyaan Saudara Himawan. Vietnam adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki tradisi panjang dalam pembuatan barang kerajinan tangan. Desa-desa tenun sutra sendiri tersebar di beberapa provinsi di Vietnam, terutama di daerah dataran rendah di Vietnam Utara dan wilayah Trung Bo Utara. Kota Hanoi merupakan daerah dengan jumlah desa kerajinan tradisional terbesar di Vietnam dengan hampir 1.350 desa kerajinan dan desa yang memiliki aktivitas kerajinan. Keberadaan desa-desa kerajinan di Kota Hanoi ini memberikan kontribusi positif terhadap pergeseran struktur dan pengembangan ekonomi Ibu Kota. Di samping itu, desa-desa ini juga turut meletakkan prasyarat bagi kesuksesan Program Setiap Kecamatan Satu Produk (OCOP) serta pembangunan pedesaan baru.
Di Kota Hanoi, Desa Sutera Van Phuc yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota, merupakan desa tenun sutera yang sangat terkenal. Memiliki sejarah lebih dari 1.000 tahun, Desa Van Phuc khusus memproduksi dan menyediakan beragam produk sutra berkualitas tinggi, seperti sutra van – yaitu sutra premium yang terkenal dengan teknik tenun pola tekstur pada permukaan kainnya – serta jenis sa tin dan kain dui atau sutra kasar. Saat ini, desa tersebut mempunyai sekitar 800 rumah tangga yang menekuni profesi ini, atau mencakup 60 persen dari total rumah tangga di desa. Setiap tahun, produksi kain di sini mencapai kira-kira 2,5-3 juta meter persegi, sehingga memberikan kontribusi besar pada pendapatan daerah.
Dengan sejarah yang lama dan identitas kerajinan serta semua keunggulan khas dari desa kerajinan tradisional, Desa Van Phuc berhasil menjadi salah satu di antara dua desa pertama Kota Hanoi yang masuk ke dalam Jaringan Kota Kerajinan Kreatif Global. Pencapaian ini bukan sekadar gelar, melainkan sebuah peluang bagi desa tersebut untuk terhubung dengan dunia internasional, meningkatkan nilai merek serta berkembang secara berkelanjutan yang berbasis warisan budaya serta menjadi destinasi menarik bagi wisatawan.
Saudara Himawan yang budiman! Kami berharap informasi tersebut dapat memuaskan Anda. Jika Anda berkesempatan untuk berkunjung ke Vietnam, marilah maanfaatkan waktu untuk mengunjungi desa-desa kerajinan tradisional di Vietnam dan melihat langsung proses pembuatan kerajinan serta membeli berbagai produk kerajinan tangan sebagai suvenir.
Sampai di sini, berakhirlah sudah acara “Kotak Surat Anda” pekan ini. Untuk mendengarkan dan membaca kembali program siaran kami, silakan Anda mengakses situs web vovworld.vn atau mengirim email ke Indonesia.vov5@gmail.com. Anda juga dapat menyurati kami melalui alamat pos: Jalan Ba Trieu, Nomor 45, Kecamatan Cua Nam, Kota Hanoi, Vietnam.
