Delegasi Vietnam yang menghadiri konferensi tersebut menegaskan dukungan kuat Vietnam terhadap berbagai inisiatif dalam standardisasi keterampilan dan pengembangan sumber daya manusia ASEAN, guna bersama-sama membangun pasar tenaga kerja ASEAN yang mandiri, inklusif, dan terintegrasi.

Konferensi Menteri Tenaga Kerja ASEAN ke-29 mempertemukan para menteri tenaga kerja dan pimpinan kementerian serta instansi terkait dari 11 negara anggota ASEAN, mitra ASEAN+3 (Tiongkok, Jepang, dan Republik Korea), serta perwakilan berbagai organisasi internasional, seperti Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Dalam pidato pembukaan, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul menegaskan sosok strategis dari tenaga kerja ASEAN di tengah perubahan dunia yang berlangsung pesat akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

“ASEAN merupakan rumah bersama bagi lebih dari 700 juta penduduk, dengan tenaga kerja lebih dari 360 juta orang. Ini merupakan salah satu sumber daya manusia terbesar dan paling dinamis di dunia. Manusia adalah aset terbesar kita, dan keterampilan mereka akan menentukan daya saing serta kemakmuran seluruh kawasan di tengah dunia yang penuh gejolak.”

Dalam konferensi tersebut, para delegasi berfokus membahas berbagai solusi untuk memperkuat sumber daya manusia ASEAN agar mampu beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi, proses transisi hijau, digitalisasi, serta dinamika pasar tenaga kerja. Semua negara kembali menegaskan komitmen bersama untuk mendorong pekerjaan yang layak dan inklusif; memberikan dukungan kuat terhadap Visi Komunitas ASEAN 2045 dan Rencana Strategis Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASCC); serta menegaskan kembali tekad untuk mencegah dan menghapus secara menyeluruh bentuk-bentuk terburuk pekerja anak melalui Peta Jalan ASEAN hingga tahun 2035.

Untuk mewujudkan target peningkatan kualitas sumber daya manusia, Menteri Tenaga Kerja Thailand, Chulaphan Amornvivat, yang mengatasnamakan panitia penyelenggara, mengumumkan tiga pilar aksi utama Konferensi ALMM ke-29.

“Dengan tema Mendorong Pengembangan Sumber Daya Manusia ASEAN: Sertifikasi Keterampilan Menuju Pengakuan Global, Thailand bertujuan mendorong tiga bidang sertifikasi keterampilan yang saling berkaitan erat, yaitu Sertifikasi Kursus Pelatihan Keterampilan ASEAN, Sertifikasi Standar Keterampilan ASEAN, dan Sertifikasi Pusat Terkemuka ASEAN.”

Dalam konferensi tersebut, delegasi Vietnam yang diwakili oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Cao Huy menegaskan dukungan kuat Vietnam terhadap berbagai inisiatif dalam standardisasi keterampilan dan pengembangan sumber daya manusia ASEAN. Vietnam berkomitmen untuk bersinergi membangun pasar tenaga kerja ASEAN yang mandiri, inklusif, dan terintegrasi.

Vietnam juga berpartisipasi dalam pembahasan mengenai arah-arah kerja sama kawasan, di antaranya menekankan bahwa pembentukan sistem sertifikasi keterampilan berstandar internasional dan pendorongan mekanisme pengakuan timbal balik merupakan “kunci” strategis untuk membuka peluang lapangan kerja yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja di seluruh kawasan.

Untuk mewujudkan target-target tersebut, Vietnam mengusulkan tiga prioritas utama kerja sama strategis.

Pertama, memperluas skala dan jumlah Perjanjian Pengakuan Timbal Balik (MRAs) di kawasan, serta mengembangkan peran Dewan Pendidikan Vokasi ASEAN (ATC) untuk menghubungkan sistem sertifikasi keterampilan nasional dengan standar regional dan global.

Kedua, menerapkan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital untuk mendigitalisasi, memverifikasi, serta menelusuri sertifikat keterampilan yang dapat diakses lintas negara anggota. Selain itu, menyempurnakan basis data keterampilan nasional yang memenuhi kriteria “tepat, cukup, dan dapat digunakan bersama”, sebagai landasan bagi negara-negara ASEAN untuk saling mengakui keterampilan secara transparan dan cepat.

Ketiga, mengaitkan pengakuan keterampilan dengan perbaikan kondisi kerja, reformasi gaji yang adil, serta jaminan kesejahteraan sosial yang menyeluruh. Dengan demikian, sertifikat tersebut benar-benar menciptakan peluang lapangan kerja yang berkelanjutan dan memberikan penghasilan yang layak bagi para pekerja.

Terkait arah kerja sama, konferensi tersebut menyambut baik dan menyempurnakan Program Kerja Menteri Tenaga Kerja ASEAN periode 2026–2030 beserta berbagai rencana sektoral untuk mengarahkan kerja sama selama lima tahun ke depan.

Salah satu hasil menonjol yang dicapai konferensi tersebut adalah pengesahan Pernyataan ASEAN mengenai Perekrutan yang Adil, Etis, dan Berkelanjutan bagi Pekerja Migran serta Pernyataan ASEAN mengenai Peningkatan Ketahanan Pasar Tenaga Kerja dan Masyarakat. Semua pernyataan tersebut akan disampaikan kepada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-49./.