Sejarah hubungan diplomatik antara Vietnam dan Thailand tidak dimulai dari ruang rapat mewah, tetapi dari situasi diplomatik yang dramatis. Pada tahun 1976, di tengah tingginya hambatan-hambatan geopolitik, pembentukan saluran komunikasi antara kedua negara merupakan tantangan yang sangat besar. Bhichai, Menteri Luar Negeri (Menlu) Thailand saat itu harus meminta utusan khususnya di New York untuk menjalin kontak dengan pihak Vietnam. Setelah mengetahui bahwa Wakil Menlu Vietnam, Phan Hien, akan transit di Bangkok setelah bertolak dari New York ke Vietnam dan, sebuah pertemuan singkat diatur di bandara. Dr. Phan Chi Thanh, mantan Duta Besar (Dubes) Vietnam untuk Thailand, menyatakan:

"Mereka mengadakan pembicaraan selama dua jam di ruang rapat bandara. Saya yakin itu adalah dialog pertama antara Menlu Thailand dan Wakil Menlu Vietnam mengenai pembangunan perdamaian. Beberapa bulan kemudian, delegasi Thailand mengunjungi Vietnam dan memulai perundingan, bertemu dengan Menlu dan para pemimpin Vietnam. Pembahasan-pembahasan itu sangat menantang. Tetapi akhirnya, setelah beberapa hari, mereka sepakat bahwa kedua negara perlu mengesampingkan masa lalu, menatap masa depan, dan menjadi sahabat”.

Dari langkah awal yang penuh kehati-hatian, Vietnam dan Thailand secara bertahap membina kepercayaan, mengatasi perbedaan, dan menuju kerja sama. Secara khusus, kesamaan dan keunikan hubungan Vietnam-Thailand telah menciptakan ikatan dan misi bersama bagi kedua bangsa. Dubes Pham Quang Vinh – mantan Wakil Menlu sekaligus mantan Kepala SOM ASEAN Vietnam, menilai bahwa: Vietnam dan Thailand bersama-sama terletak di lembah Sungai Mekong. Kedua negara terhubung erat oleh ekosistem dan gaya hidup di sini. Kedua negara membudidayakan padi.

"Meskipun bersama-sama terletak di Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand berada di jantung kawasan Sungai Mekong. Di dalam ASEAN, kita sedang membangun wilayah yang lebih luas yang mencakup wilayah laut dan darat. Pastilah bahwa Vietnam dan Thailand juga sangat memperhatikan sub-kawasan Sungai Mekong, keamanan air, mata pencaharian masyarakat, dan pembangunan yang berkelanjutan."

Visi tentang nasib bersama ASEAN diperkuat secara nyata sejak tahun 1995, ketika Vietnam bergabung dengan blok tersebut. Sejak saat itu, kedua negara tidak lagi sekadar bertetangga tetapi benar-benar telah menjadi bagian dari "satu rumah bersama". Secara khusus, mekanisme rapat kabinet bersama – satu-satunya mekanisme Thailand dengan Vietnam – telah menjadi bukti bagi tingkat kepercayaan politik yang mendalam antara kedua belah pihak. Dubes Kerajaan Thailand untuk Vietnam, Urawadee Sriphiromya, menegaskan:

“Hubungan bilateral antara kedua negara berada pada titik terdekat dan tertinggi yang pernah ada. Kita sekarang adalah Mitra Strategis Komprehensif. Hal ini berarti bahwa kita bersama-sama menggalang hubungan atas dasar kepercayaan, persahabatan, dan kerja sama yang berkelanjutan selama lima dekade terakhir. Pemimpin kedua negara telah menetapkan target untuk mencapai nilai perdagangan bilateral sebesar 25 miliar USD. Saat ini, kita telah mencapai lebih dari 22 miliar USD. Saya yakin bahwa dengan sinergi, kita akan mencapai target yang telah ditetapkan.”

Setelah 50 tahun berjalan, Vietnam dan Thailand kini bertransformasi melampaui sebutan “sahabat sawah”. Dalam simfoni ASEAN yang mandiri, kedua negara telah dan sedang memainkan peran sebagai pemain musik utama, bersama-sama menulis lagu kemenangan mengenai Asia Tenggara yang damai, stabil, makmur, dan selalu inovatif.

C ASEAN merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh PT. Thai Beverage Public (ThaiBev) pada tahun 2015 untuk menciptakan fondasi yang menghubungkan komunitas ASEAN, dengan fokus pada tiga pilar utama: Bisnis dan Pembangunan Berkelanjutan, Kesenian dan Kebudayaan, serta Kepemimpinan dan Pengembangan Bakat.