Indonesia menghadapi kenyataan serupa. Setiap Oktober ditetapkan sebagai Bulan Bahasa, yang berpusat pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Melalui berbagai kegiatan di seluruh Indonesia, Bulan Bahasa bertujuan memasyarakatkan, membina, dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia. Tujuannya jelas: menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan pada bahasa yang mempersatukan Nusantara, terutama di kalangan generasi muda.
Kedua negara menghadapi tekanan zaman yang sama. Gaya hidup kosmopolitan, banjir informasi digital, dan pesan-pesan individualistis di media sosial dapat melemahkan ikatan orang dengan kampung halamannya. Ketika kehidupan sehari-hari menjadi lebih global sekaligus lebih personal, bahasa bersama yang dahulu mengikat masyarakat bisa terasa jauh. Karena itu, Hari Bahasa dan Bulan Bahasa bukan kegiatan nostalgia, melainkan jawaban praktis atas risiko tersebut.
Bahasa Vietnam dan bahasa Indonesia berasal dari rumpun yang berbeda dan memiliki tata bahasa yang berbeda. Namun secara budaya, keduanya jauh lebih dekat daripada yang terlihat dari perbedaan itu. Kedua bangsa sama-sama tumbuh dari masyarakat agraris dan sejak lama mengutamakan kebersamaan di atas kepentingan pribadi. Peribahasa Vietnam “Một cây làm chẳng nên non, ba cây chụm lại nên hòn núi cao” — satu pohon tidak bisa menjadi bukit, tetapi beberapa pohon bersama-sama membentuk puncak yang tinggi — memuat semangat yang sama dengan Gotong Royong di desa-desa Indonesia. Kesamaan budaya inilah yang membuat saling pengertian terjadi secara alami, bukan dipaksakan.
Sejarah juga menghubungkan keduanya. Pada abad ke-12, seorang putri Champa menikah dengan seorang pangeran Jawa. Bahkan kata bilangan dasar di kedua bahasa memiliki kemiripan bunyi jika didengarkan dengan saksama.
Pada masa modern, persahabatan para founding fathers, Soekarno dan Ho Chi Minh, memberi kehangatan pada hubungan bilateral yang resmi dimulai pada 1955. Dua pemimpin dengan keyakinan nasionalisme yang kuat itu ikut mendorong gerakan kemerdekaan di luar negeri mereka sendiri. Pandangan mereka masih terlihat dalam cara kedua negara menyikapi persoalan identitas dan kedaulatan.
Dalam konteks ini, pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing menjadi penting. Sejak 1993, Pemerintah Indonesia mendukung upaya tersebut melalui program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). BIPA dibentuk untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia secara sistematis kepada pemelajar di berbagai negara. Saat ini program tersebut berjalan melalui universitas mitra, pusat kebudayaan, dan kedutaan besar, dengan kursus terstruktur yang memadukan keterampilan berbahasa dan pemahaman budaya.
Di Asia Tenggara, tempat beberapa negara ASEAN memiliki akar bahasa yang sama dengan bahasa Indonesia, BIPA berperan sangat praktis. Program ini membantu pelajar di Vietnam dan negara-negara sekitarnya menguasai bahasa yang juga dapat digunakan di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura, sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat di kawasan.
Bagi generasi muda ASEAN, belajar bahasa Indonesia bukan hanya kegiatan akademis. Bahasa Indonesia adalah jembatan ke negara tetangga yang sebagian warisan bahasanya sama. Bahasa menjadi penghubung budaya sekaligus alat yang berguna: memudahkan persahabatan, studi, dan kerja sama profesional. Di kawasan yang terus berintegrasi, kemampuan berkomunikasi dengan lancar memberi keuntungan nyata. Pada saat yang sama, upaya ini membantu menjaga bahasa nasional tetap hidup dan dihargai di tengah arus global.
Hari Bahasa Vietnam pada 8 September dan Bulan Bahasa Indonesia pada Oktober menjawab kebutuhan yang sama. Keduanya mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk memperlakukan bahasa mereka bukan sebagai kemampuan sampingan, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dijaga dan digunakan dengan bangga. Pengajaran bahasa Indonesia kepada penutur asing adalah kelanjutan dari upaya tersebut. Bahasa Indonesia dikenal di ruang-ruang kelas baru, membangun saling pengertian lintas negara, dan tetap berakar di dalam negeri.
Tantangan kehidupan modern tidak akan hilang. Individualisme dan distraksi digital akan terus bersaing merebut perhatian. Yang dibutuhkan adalah pilihan yang konsisten untuk menjaga bahasa tetap digunakan dan dirayakan. Upaya-upaya kecil, dari percakapan di ruang kelas hingga kegiatan publik, akan terakumulasi. Seperti peribahasa Vietnam lainnya, “Có công mài sắt, có ngày nên kim” — dengan usaha yang tekun, besi pun bisa menjadi jarum.
Dengan memperingati tanggal-tanggal tersebut secara sungguh-sungguh, Vietnam dan Indonesia menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wujud cinta tanah air, rasa memiliki, dan kesinambungan. Di ruang kelas tempat bahasa Indonesia diajarkan kepada pemelajar baru, dan di masyarakat yang setiap September dan Oktober memberi perhatian pada bahasanya sendiri, kekuatan itu terus diperbarui.
