Tampil di atas panggung dengan mengenakan pakaian tradisional, serta suara yang lantang dan emosional, dua jurnalis dari Persatuan Wartawan Laos, Keosone Keola dan Vilakone Chittakone, berhasil mengajak seluruh penonton bertepuk tangan mengikuti irama meriah lagu “Khao Niew Sieng Khean” yang diciptakan oleh Buangan Xaophuvong. Jurnalis Keosone Keola mengatakan bahwa lagu tersebut kental dengan identitas budaya bangsa Laos.
“Lagu ini bercerita tentang budaya dan adat istiadat masyarakat Laos. Khao niew (nasi ketan) merupakan hidangan yang tak terpisahkan dalam masakan Laos, sementara Sieng Khean merupakan suara seruling “khèn”, sebuah simbol budaya yang menunjukkan kehidupan spiritual masyarakat Laos yang penuh kegembiraan dan kekayaan. Kami ingin memperkenalkan keindahan budaya serta ciri khas masyarakat Laos kepada masyarakat Vietnam.”
Melalui lagu tersebut, para jurnalis Laos juga menyampaikan pesan tentang pentingnya memperkuat pelestarian dan pengembangan warisan budaya nasional, nilai-nilai yang kini mendapat perhatian dari kawasan maupun dunia.
Senada dengan rekan-rekan dari Laos, para jurnalis Kamboja juga menghadirkan sebuah karya istimewa di atas panggung. Lagu “The Light of Southeast Asia” (Cahaya Asia Tenggara) diciptakan sekaligus dibawakan langsung oleh jurnalis Puy Kea, Ketua Klub Wartawan Kamboja. Penampilan ini dipadukan dengan pertunjukan tari tradisional yang anggun dari para “seniman amatir” yang berasal dari berbagai lembaga pers Kamboja. Puy Kea menyampaikan:
“Lagu ini berjudul Cahaya Asia Tenggara dengan tiga isi dan pesan utama. Pertama, cahaya tersebut berasal dari warisan dunia Angkor Wat yang terkenal, dengan melodi musik tradisional yang bertujuan memperkenalkan budaya Kamboja kepada para penonton. Kemudian cahaya warisan tersebut memancar hingga ke kota pesisir Hai Phong di Vietnam dengan berbagai festival yang berwarna-warni. Pada akhirnya, cahaya tersebut menyebar ke seluruh kawasan ASEAN. Itulah cahaya harapan, solidaritas, dan perkembangan yang makmur bagi seluruh kawasan.”
Jika penampilan para jurnalis Laos dan Kamboja memukau penonton melalui lagu-lagu yang memuji tanah air, maka jurnalis Thailand, Ja-oh Natarpa Phongtipapon menyentuh hati hadirin dengan pesan mendalam yang berbeda, yaitu kecintaan terhadap profesi jurnalistik dan cita-cita luhur dari para insan pers. Lagu “Insan Pers” karya Phayong Mukda, yang dibawakannya tidak hanya menjadi ungkapan tulus tentang profesi jurnalistik, tetapi juga membangkitkan empati yang mendalam di antara rekan sejawat se-ASEAN. Jurnalis perempuan asal Thailand tersebut berbagi:
“Kami bekerja keras dan tidak takut menghadapi kesulitan, meskipun gaji yang kami terima sederhana. Hal yang kami inginkan adalah membuktikan kebenaran dan menyampaikannya kepada masyarakat, meskipun lelah dan harus mengatasi banyak rintangan. Namun kami tidak takut, karena bagi kami, cita-cita sangatlah penting.”
Berkat penampilan yang sarat nilai, makna budaya serta menciptakan sorotan istimewa pada malam final, para jurnalis Laos, Kamboja, dan Thailand dianugerahi penghargaan “Persahabatan – Dedikasi – Penyebaran” oleh Panitia Penyelenggara. Menyaksikan penampilan para jurnalis ASEAN, musisi Do Hong Quan, Ketua Gabungan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam, memberikan penilaian:
“Hal yang mereka bawa dalam kontes kali ini adalah kecintaan terhadap Tanah Air dan kebanggaan terhadap melodi khas negara masing-masing. Musik telah menghapus batas geografis, membantu kita menjadi lebih dekat, sekaligus menunjukkan kecintaan terhadap negara, profesi jurnalistik, serta kecintaan terhadap kebenaran dari para jurnalis sejati.”
Tidak hanya berhenti pada pertunjukan di atas panggung saja, para jurnalis Laos, Kamboja, dan Thailand juga mengikuti berbagai kegiatan lain dalam rangka memperingati HUT ke-101 Hari Pers Revolusioner Vietnam. Musik dan berbagai aktivitas nyata di Hai Phong telah menjadi jembatan budaya yang memberikan kesempatan berharga bagi para jurnalis ASEAN untuk memahami lebih dalam dinamika kehidupan pers di Vietnam.
