(VOVWORLD) - Di tengah suasana khidmat, diiringi alunan musik klasik yang emosional, upacara penganugerahan Penghargaan Sastra ASEAN – SEA Write Award 2024–2025 telah berlangsung di Bangkok, Ibu kota Thailand. Upacara ini menandai perjalanan 46 tahun pembentukan dan pengembangan penghargaan yang dianggap sebagai simbol budaya bersama Asia Tenggara. Bukannya sekadar ajang memuliakan karya-karya terkemuka, SEA Write juga menjadi jembatan abadi yang menghubungkan sastra dan bangsa di bawah satu rumah bersama ASEAN.
Para sastrawan yang mendapat penghargaan tersebut. Foto:VOV |
Upacara penganugerahan Penghargaan tersebut mempertemukan 14 sastrawan dan penyair dari delapan negara ASEAN, termasuk Brunei Darussalam, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Khunying Thipavadee Meksawan, Kepala Panitia Penyelenggara Penghargaan SEA Write, menekankan bahwa selama lebih dari empat dekade terakhir, penghargaan tersebut telah menjadi tradisi yang berharga di kawasan, tempat berkumpulnya para sastrawan terpilih.
“Penghargaan SEA Write tidak hanya memperkaya jiwa dan imajinasi, tetapi juga menyuarakan budaya bersama ASEAN. Saya percaya bahwa komunitas sastra akan terus melahirkan karya-karya dengan visi unik dan menduniakan sastra regional.”
Khunying Thipavadee Meksawan, Kepala Panitia Penyelenggara Penghargaan SEA Write. Foto: VOV |
Sejak didirikan pada tahun 1979 dengan sponsor Keluarga Kerajaan Thailand, Penghargaan SEA Write secara bertahap menjadi salah satu penghargaan sastra yang paling bergengsi di kawasan. Karya-karya yang terpilih tidak hanya mencerminkan identitas unik masing-masing bangsa, tetapi juga mengandung nilai-nilai universal bersama, yaitu aspirasi akan perdamaian, pemahaman antar manusia, dan keyakinan pada kekuatan sastra.
Sastrawan Dayang Hajah Nur Hamizah dari Brunei Darussalam mendapat penghargaan dengan novel “Dua Puluh,” yang menceritakan tentang bencana besar yang melanda dunia, sehingga melumpuhkan seluruh sistem global. Sastrawan Martin Surayajaya dari Indonesia memenangkan penghargaan SEA Write 2024 dalam kategori esai dengan karya “Kesusastraan, Kehancuran”. Kumpulan puisi karya penyair Siwakarn Patoommasoot dari Thailand, “The Other Side of the Seesaw” (Sisi Lain dari Jungkat-Jungkit), memenangkan penghargaan SEA Write 2025. Sastrawan Nguyen Tham Thien Ke dari Vietnam dan dokter gigi Prasertsak Padmarid dari Thailand, menyatakan:
“Karya ‘Musim panas di bawah naungan pepohonan’ merupakan kumpulan 35 cerita pendek setebal 450 halaman. Karya saya ditulis selama 15 sampai 20 tahun dan sepenuhnya berfokus pada budaya Vietnam. Saya menulis tentang para prajurit yang pulang dari medan tempur, kisah sehari-hari dalam kehidupan kontemporer, dan aspirasi untuk menegakkan perdamaian dan memperkaya diri sendiri. setiap individu.”
"Ini merupakan novel pertama saya, yang menceritakan tentang kerajinan tenun kain Tin Chok di Mae Chaem. Saya menginginkan agar melalui karya ini, orang-orang dapat melihat nilai budaya, tradisi, dan kerajinan tangan lokal, sehingga mereka dapat mengembangkan, melestarikan, dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat setempat."
Sastrawan Nguyen Tham Thien Ke dari Vietnam. Foto: VOV |
Menurut Panitia penyelenggara, hal utama untuk mempertahankan Penghargaan SEA Write adalah keyakinan bahwa bahasa dan sastra tidak pernah hilang, keduanya perlu dipelihara dengan baik agar terus diwariskan dari generasi ke generasi. Memasuki tahun ke-47, Penghargaan SEA Write telah meluncurkan berbagai kegiatan baru untuk mendekatkan sastra kepada masyarakat dan generasi muda. Khunying Thipavadee Meksawan, Ketua Panitia Penyelenggara Penghargaan SEA Write, menunjukkan berbagai rencana di masa mendatang:
“Pertama, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan SEA Write keliling di lembaga-lembaga pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah di seluruh Thailand untuk mendukung dan mendorong kegiatan membaca dan kritik sastra. Kedua, menginspirasi generasi muda dan membangkitkan kecintaan mereka terhadap membaca dan menulis melalui kursus pelatihan dan kegiatan berbagi pengalaman dari para sastrawan SEA Write. Ketiga, menyelenggarakan berbagai kompetisi SEA Write tahunan bagi pemuda di berbagai daerah untuk memilih penulis muda berbakat”.
Di rumah bersama ASEAN, setiap sastrawan dan penyair membawa kisah serta kenangan bangsa mereka masing-masing. Tetapi ketika kisah-kisah ini bertemu di SEA Write, mereka tidak lagi terisolasi. Mereka menyatu, menciptakan aliran budaya regional yang sama – di mana sastra bukan hanya untuk memuliakan, tetapi juga untuk menghubungkan, memahami, dan bersama-sama menuju masa depan.