Sosok di balik toko tersebut adalah Ha Lam Tu Quynh, mantan Direktur Komunikasi di Google, yang memilih meninggalkan lingkungan grup multinasional untuk menempuh perjalanan baru: memperkenalkan Banh Mi (roti Vietnam) ke dunia. Mari kita simak kisah Tu Quynh melalui reportase bertajuk “Sebuah Banh Mi dan Kisah Warga Vietnam dalam Menyebarkan Kekuatan Lunak ke Dunia”. Kisahnya menunjukkan bahwa melalui sebuah Banh Mi, perantau Vietnam dapat memberikan kontribusi nyata kepada Ibu Pertiwi dengan pengetahuan, pengalaman, dan jaringan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
“Untuk membawa kuliner Vietnam ke pasar internasional, hal yang paling saya utamakan adalah mempertahankan identitasnya. Dalam hal ini, identitas adalah cita rasa makanan. Rasanya harus sedekat mungkin dengan cita rasa tradisional atau cita rasa asli Vietnam.”
Itulah hal pertama yang dipikirkan Ha Lam Tu Quynh ketika memperkenalkan Banh Mi ke pasar baru. Baginya, yang terpenting bukanlah bagaimana menjual lebih banyak, melainkan bagaimana mempertahankan keaslian produk tersebut.
Sejak merintis proyek Banh Mi Society, Tu Quynh selalu yakin bahwa ketika pelanggan internasional masuk ke tokonya, yang muncul bukan sekadar rasa ingin tahu. Pengalaman itu justru menumbuhkan kecintaan terhadap suatu budaya yang sebelumnya sama sekali asing bagi mereka. Inilah salah satu cara perantau Vietnam seperti dirinya menjadi titik awal dalam menyebarkan kekuatan lunak dan citra nasional Vietnam. Khususnya, dengan komunitas 6,5 juta perantau Vietnam di lebih dari 130 negara dan teritori, kisah seperti yang dialami Tu Quynh bersama Banh Mi Society berpotensi menjadi sumber daya strategis yang penting bagi negara sekaligus jembatan yang menghubungkan Vietnam dengan dunia.
Berbagi pandangan mengenai pentingnya sumber daya dari perantau Vietnam, Tu Quynh mengatakan:
“Kita tidak seharusnya memandang perantau Vietnam hanya sebagai orang-orang yang mengirimkan remitansi dan dukungan finansial. Mereka juga memiliki pengetahuan, pengalaman, pemahaman, serta jaringan hubungan yang dapat kita manfaatkan. Jika sumber daya ini dihubungkan dengan sumber daya di dalam negeri, kami yakin akan ada banyak peluang untuk mendukung perekonomian serta komunitas pengusaha di Vietnam.”
Pandangan Tu Quynh juga sejalan dengan pendekatan baru yang tengah dituju oleh Partai dan Pemerintah Vietnam, yaitu: tidak hanya memobilisasi dan memikirkan perantau Vietnam seperti sebelumnya, tetapi beralih ke upaya mendampingi dan menciptakan mekanisme agar supaya sumber daya dan pemahaman komunitas tersebut mengenai pasar asing dimanfaatkan secara lebih sistematis. Di tempat Tu Quynh tinggal, tanda-tanda positif mulai terlihat.
“Saya sudah tinggal di Singapura selama lebih dari 10 tahun. Baru pada tahun 2025, untuk pertama kalinya, digelar acara Festival Pho Vietnam yang diselenggarakan bersama oleh Kedutaan Besar Vietnam dan menarik lebih dari 70.000 pengunjung. Acara-acara berskala besar seperti ini akan menciptakan gema yang sangat besar dibandingkan berbagai kegiatan kecil yang dilakukan secara terpisah oleh individu atau perusahaan kecil Vietnam. Vietnam perlu menyelenggarakan lebih banyak acara, tidak hanya tentang Pho. Mengapa tidak ada Hari Kopi Vietnam atau Hari Banh Mi Vietnam? Ada banyak acara yang dapat kita selenggarakan dalam skala lebih besar untuk menarik pengunjung dari berbagai negara dan pasar baru. Dengan demikian, mereka dapat datang dan membawa pulang kesan mendalam tentang Vietnam.”
Dari sebuah toko kecil di tengah Singapura, kisah Ha Lam Tu Quynh dan Banh Mi Society menjadi bukti nyata bahwa kekuatan lunak kebudayaan Vietnam tidak hanya dibangun melalui strategi nasional. Kekuatan tersebut juga dipupuk setiap hari berkat kontribusi perantau Vietnam, melalui pengetahuan, pengalaman, dan kecintaan terhadap Ibu Pertiwi. Membawa sebuah Banh Mi sama artinya mendekatkan kebudayaan Vietnam dengan masyarakat internasional./.
