Kisah Chinoros Benjachavakul – yang memiliki nama Vietnam yang begitu akrab, Nguyen Ba Ti – bukan hanya tentang keberhasilan seorang pimpinan senior di PT Peternakan CP Vietnam, melainkan juga perjalanan pengabdian melalui berbagai kegiatan untuk masyarakat.

Pada 1 Juli 2004, Chinoros Benjachavakul turun dari pesawat terbang dengan hati penuh antusiasme sekaligus rasa asing. Sepanjang perjalanannya di Vietnam, ia menghadapi berbagai tantangan yang tidak kecil. Mulai dari kendala bahasa hingga perbedaan budaya, ia secara bertahap mempelajari bahasa Vietnam dan mendalami adat istiadat setempat agar dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat Vietnam. Bagi Chinoros Benjachavakul, sebagai warga negara asing yang telah lama tinggal di Vietnam, Vietnam bukan sekadar tempat bekerja, melainkan telah menjadi rumah keduanya:

“Saat itu, saya melihat Vietnam sedang berada dalam tahap pembangunan dan saya melihat banyak peluang. Pertama, peluang bagi diri saya sendiri – sebuah ruang untuk menunjukkan kemampuan dan pengalaman yang telah saya kumpulkan selama bekerja di Thailand, sekaligus berbagi pengetahuan profesional dan mempelajari lebih dalam budaya di sini. Hal ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Saya mendapatkan pengalaman tambahan, sementara Vietnam juga memperoleh pertukaran pengetahuan, budaya, bahasa, dan gaya hidup dari warga negara asing.”

Setelah bertahun-tahun tinggal di Vietnam, Chinoros Benjachavakul menyaksikan langsung berbagai tahapan transformasi negara ini – dari masa-masa sulit pada masa awal kedatangannya hingga perkembangan pesat seperti saat ini. Pengalaman tersebut membentuk perspektif yang penuh rasa hormat dan haru terhadap masyarakat serta kemajuan Vietnam:

“Sebagai warga Thailand yang telah menetap di Vietnam selama beberapa dekade, saya melihat kesiapan masyarakat serta kapasitas tata kelola yang semakin sempurna. Dari sebuah negara yang sebelumnya belum berkembang pesat, kini Vietnam telah memasuki tahap pembangunan yang sangat jelas. Saya merasa bangga dapat berdedikasi pada perjalanan pembangunan tersebut.”

Selama lebih dari 20 tahun tinggal dan bekerja di Vietnam, semua kegiatan amal yang dilakukan oleh PT Peternakan CP Vietnam, seperti donor darah sukarela, pemeriksaan dan pengobatan keliling untuk membantu masyarakat di daerah yang terdampak kesulitan, pemberian beasiswa, kerja sama dengan berbagai universitas, dll, semuanya memiliki jejak kontribusi Nguyen Ba Ti.

Membuka satu per satu “buku catatan donor darah” yang ia simpan dengan cermat selama lebih dari 30 tahun terakhir, perjalanan tersebut muncul seperti rangkaian kenangan yang tenang yang terus bertahan. Pada tahun 2017, ia mendapat Piagam Penghargaan sebagai salah satu dari 100 pendonor darah teladan tingkat nasional dari Wakil Presiden Vietnam. Ia merupakan salah satu warga negara asing di Vietnam yang paling sering mendonorkan darah, yakni sebanyak 36 kali dari total 65 kali donor darah hingga saat ini. Targetnya adalah dapat mendonorkan darah sebanyak 100 kali. Barangkali justru hal-hal sederhana inilah yang membuatnya benar-benar menjadi sosok kakak bagi rekan-rekannya di Vietnam:

“Saudara Chinoros adalah seorang pemimpin yang sepenuh hati dengan pekerjaan sekaligus sosok kakak bagi para karyawan PT Peternakan CP Vietnam. Ia tidak hanya memberikan arahan mengenai strategi sumber daya manusia dan pengembangan budaya perusahaan, tetapi juga menginspirasi kami melalui berbagai kegiatan sosial yang bermakna.”

“Bagi saya, Saudara Chinoros adalah seorang pemimpin teladan melalui tindakan nyata. Ia selalu bertanggung jawab terhadap pekerjaan maupun kegiatan sosial. Ia bukan hanya seorang manajer, tetapi juga sosok yang menginspirasi, terutama dalam hal kedisiplinan pribadi dan semangat untuk berbagi.”

Selama lebih dari dua dekade, Vietnam telah menjadi “rumah kedua” di hati Chinoros Benjachavakul – Nguyen Ba Ti, tempat ia menemukan kedewasaan, kebersamaan, dan makna kehidupan. Perjalanannya bukan hanya kisah seorang pemimpin atau seorang dermawan, tetapi juga kisah tentang sebuah hati yang secara sukarela menjadi jembatan yang tenang namun kokoh dalam menghubungkan dua kebudayaan Vietnam dan Thailand./.