Gunung Non Nuoc, juga disebut Duc Thuy Son, terletak di Kecamatan Hoa Lu, Provinsi Ninh Binh. Gunung ini kerap diibaratkan sebagai “museum puisi alam” yang tak ternilai harganya dengan sistem prasasti “Ma Nhai” yang membentang dari kaki gunung hingga puncaknya. Kata “ma” berarti mengerinda dan mengikir. Sedangkan “nhai” berarti tebing gunung. “Ma Nhai” merupakan salah satu bentuk karya seni ukir pada batu alami. Hingga Di Gunung Non Nuoc saat ini masih tersimpan 43 buah prasasti “Ma Nhai” di gunung tersebut. Nasir Uddin, Konselor Minister Kedutaan Besar Republik Rakyat Bangladesh, menyampaikan:

“Sistem prasasti ma nhai menyimpan suara menyuarakan kisah Vietnam selama tujuh abad terakhir. Prasasti ini bukan sekadar teks atau tulisan biasa di atas batu, tetapi melainkan juga mengandung lembaran sejarah, budaya, dan tradisi sastra Vietnam selama berbagai dinasti dari masa ke masa. Melalui sistem prasasti ini, kita dapat memahami bagaimana masyarakat Vietnam berpikir, menjalani kehidupan, serta mengekspresikan diri betapa indaknya pengalaman itu selama berabad-abad. Nilai sejarah ini dapat menjadi sumber pengetahuan, penelitian, dan pengembangan pariwisata, tidak hanya bagi masyarakat Vietnam tetapi juga bagi komunitas internasional.”

Dengan teknik mengerinda permukaan batu untuk mengukir tulisan, “ma nhai” merupakan perpaduan harmonis antara seni kaligrafi dan alam, dengan motif-motif hias yang kental dengan ciri khas budaya masyarakat Vietnam. Truong Dinh Tuong, Ketua Asosiasi Ilmu Sejarah Provinsi Ninh Binh, mengatakan:

“Tempat ini menyimpan tradisi istimewa, khususnya terutama tradisi dialog antara kalangan elite bangsa dengan alam melalui puisi, kemudian yang meninggalkan kenangan dan wsrisan berharga tersebut kepada bagi generasi berikutnya. Nilai Gunung Duc Thuy Son tidak hanya terletak pada teks-teks yang terukir pada batu, tetapi juga dalam proses dimana berbagai generasi manusia bersama-sama menulis sebuah epik budaya di gunung yang sama.”

Sistem prasasti “ma nhai” di Gunung Non Nuoc merupakan bukti nyata mengenai aksara dan bahasa Vietnam kuno. Keberadaaan yang kaya bentuk-bentuk tulisan yang terdapat pada sistem prasasti “ma nhai” ini menjadi sumber dokumen bermanfaat yang menarik kedatangan minat para akademisi internasional untuk melakukan penelitian. Pada tahun 1912, Profesor Henri Maspero asal Prancis memanfaatkan dokumen “ma nhai” di Gunung Non Nuoc untuk mengkaji sejarah fonologi bahasa Vietnam dan lalu menerbitkan hasil penelitiannya dalam majalah jurnal Institut Timur Jauh Prancis. 95 tahun kemudian, seorang akademisi Jepang juga datang melakukan survei di Gunung Non Nuoc dan menghasilkan karya mendalam mengenai aksara Nom serta melengkapi penelitian tentang aksara Huy (metode perubahan aksara) pada Dinasti feodal Tran. Professor Muda, Doktor Nguyen Tuan Cuong, mantan Kepala Institut Penelitian Han Nom, menyampaikan:

“Ini merupakan karya penelitian yang sangat bernilai. Warisan Vietnam ini awalnya diteliti oleh seorang ilmuwan Prancis, yang kemudian dilengkapi, diperbarui, dan direvisi oleh seorang profesor Jepang. Itu adalah bukti yang sangat meyakinkan mengenai karakter internasional mengenai warisan prasasti ukiran batu ma nhai di Gunung Non Nuoc dari sudut pandang para peneliti luar negeri”.

Dengan nilai-nilai berharga yang melampaui waktu, dokumen “ma nhai” di Gunung Non Nuoc telah disusun untuk disampaikan kepada Komite Program Memori Dunia Organisasi Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) kawasan Asia-Pasifik guna dipertimbangkan dan diakui sebagai Warisan Dokumenter. Vu Thanh Lich, Wakil Kepala Dinas Kebudayaan dan Olahraga Provinsi Ninh Binh, mengatakan:

“Selama hampir 700 tahun terakhir, tulisan-tulisan di tebing batu Gunung Non Nuoc secara diam-diam menyimpan memori sejarah, kearifan manusia, keindahan sastra, serta semangat budaya Vietnam. Perjalanan membawa “ma nhai” Gunung Non Nuoc menuju pengakuan UNESCO merupakan sebuah perjalanan untuk menjadikan sebuah nilai budaya lokal sebagai aset bersama komunitas internasional. Kami berkomitmen akan melestarikan keaslian warisan ini, memperkuat digitalisasi, membangun basis data terbuka, serta memfasilitasi pendorongan kerja sama penelitian, baik di tingkat nasional maupun internasional.”

Sistem prasasti “ma nhai” yang tenang berdiri secara khidmat dan mendalam di tengah alam Provinsi Ninh Binh kini memiliki peluang untuk melangkah ke dunia luar untuk menegaskan nilai Vietnam dalam peta warisan global. Setiap tulisan yang terukir pada permukaan tebing tersebut menyimpan pesan-pesan yang terus memelihara kebanggaan dari generasi ke generasi./.