Budaya kuliner Kota Ho Chi Minh merupakan intisari perpaduan antara budaya-budaya lokal kawasan Vietnam Selatan dengan berbagai komunitas lain dalam proses pembentukan dan pengembangan kota. Sastrawan Pham Cong Luan, penulis berbagai buku terkenal tentang kehidupan dan budaya Kota Ho Chi Minh, dalam bukunya “Sài Gòn - Chuyện đời của phố” (Saigon - Kisah-Kisah Kehidupan Kota) menulis: Berbagai hidangan khas dari daerah lain telah dijual di Saigon, seperti “pho” Lo Duc, “cha ca” (ikan panggang) La Vong, “nem” (rol babi fermentasi) Ninh Hoa, ayam Tam Ky, hingga Republik Korea, Thailand, India, Jepang, Italia, dan lain-lain. Tak terbantahkan bahwa hidangan lezat dari berbagai penjuru seakan berkumpul di Saigon untuk terus bertahan dan berkembang dalam perjalanannya yang unik. Sastrawan Pham Cong Luan mengatakan:

“Kota Ho Chi Minh memiliki sejarah lebih dari 300 tahun. Di kota ini, banyak warga dari berbagai daerah datang untuk menetap dan membentuk perpaduan budaya kuliner. Pada awal abad ke-20, terjadi beberapa gelombang migrasi masyarakat dari Vietnam Utara dan Vietnam Tengah ke kota ini. Setiap gelombang migrasi membentuk lapisan masyarakat baru yang membawa karakter kuliner dari daerah asal mereka, sehingga menciptakan kekhasan dan keragaman kuliner di kota ini.”

Mulai dari sarapan, makan siang, makan malam, hingga makanan ringan dan hidangan penutup, wisatawan memiliki banyak pilihan kuliner di satu kawasan. Hanya dengan duduk di sebuah kursi plastik kecil di sudut jalan, wisatawan dapat menikmati semangkuk bihun daging sapi yang panas atau sepotong “banh mi” (roti) yang renyah di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota. My Linh, pemilik kedai bihun sapi 5T, mengatakan:

“Saya berasal dari Vietnam Utara dan telah berjualan bihun daging sapi di sini selama 4 empat tahun. Bihun sapi memiliki cita rasa yang lembut. dengan kuah yang bening. Para pelanggan yang menyukai cita rasa lembut biasanya datang ke kedai saya. Setiap hari, saya menjual 150 hingga 250 mangkuk bihun daging sapi.”

Kuliner memainkan peran penting dalam kehidupan budaya Kota Ho Chi Minh, sekaligus menjadi jembatan yang mencerminkan keberagaman dan kekayaan komunitas penduduknya. Setiap hidangan di sini membawa kisah orang-orang yang merantau untuk membangun kehidupan di kota ini. Bagi mereka, Kota Ho Chi Minh tidak hanya memikat dengan gedung-gedung pencakar langit dan restoran-restoran mewah di antara warung makan pinggir jalan dan pedagang kaki lima, tetapi juga menghadirkan kehangatan saat mereka menemukan cita rasa kampung halaman di tengah luasnya perkotaan.

Vu Thi Hong Nhung, warga perantau asal Kota Hue yang telah menuntut ilmu dan bekerja di Kota Ho Chi Minh selama tujuh tahun, mengatakan:

“Ketika jauh dari kampung halaman, kita pasti merindukannya. Setiap kali dapat menikmati makanan khas daerah asal di Kota Ho Chi Minh, saya kembali teringat kenangan masa kecil di kampung halaman. Makanan di sini sangat beragam dan telah mengalami berbagai penyesuaian. Saya dapat mencicipi banyak hidangan khas Vietnam. Saya juga mengagumi kreativitas di balik hidangannya.”

Kuliner juga menjadi bagian penting dari pengalaman berwisata di Kota Ho Chi Minh. Wisatawan tidak hanya datang untuk mencari makanan, tetapi juga ingin merasakan suasana dan keunikan langsung di kota ini. Sebuah santapan dapat menjadi momen untuk bertemu, berbincang dan mempererat hubungan, baik dengan teman lama maupun orang baru. Ketika meninggalkan kota ini, orang-orang akan selalu mengingat kenangan indah itu./.