Kuil Sastra (Van Mieu – Quoc Tu Giam) telah berhasil mendigitalisasi 123 artefak dan menerapkan berbagai teknologi modern, seperti pemetaan 3D (3D Mapping), kecerdasan buatan (AI), dan realitas tertambah (Augmented Reality-AR) untuk menghadirkan pengalaman multidimensi bagi para pengunjung dalam menghayati intisari semangat pendidikan. Doktor Nguyen Van Tu, Wakil Direktur Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Van Mieu – Quoc Tu Giam, mengatakan:

"Untuk membawa situs warisan ke ruang digital, pertama-tama kita harus menampilkan informasi yang khas dari situs peninggalan sejarah maupun budaya Vietnam. Kedua, kita juga harus merumuskan langkah-langkah untuk melindungi situs-situs tersebut beserta hak ciptanya. Pemanfaatan data tersebut tidak hanya membantu masyarakat dunia lebih mengenal negeri dan budaya Vietnam, tetapi juga membangkitkan rasa penasaran mereka untuk datang langsung mengalaminya sendiri."

Pemerintah menetapkan perlindungan hak cipta warisan pada khususnya, serta kedaulatan budaya di ruang digital pada umumnya, sebagai isu krusial dalam membangun kebudayaan Vietnam yang maju dan berkepribadian bangsa. Ruang digital tidak hanya menjadi sarana untuk menghadirkan nilai-nilai budaya ke alam siber, tetapi juga harus menjadi wadah di mana budaya Vietnam dapat hadir, dikenal, dicintai, disebarluaskan, dan mampu berpartisipasi dalam membentuk nilai-nilai sosial.

Produk-produk budaya yang memiliki keunggulan dalam teknologi, platform, dan distribusi global memberikan dampak yang mendalam dan luas terhadap pemahaman, selera, dan gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda. Strategi Komunikasi dan Promosi Citra Vietnam ke Luar Negeri Periode 2026–2030 dengan Visi hingga Tahun 2045 menargetkan Vietnam masuk ke dalam jajaran 30 besar dunia pada Indeks Kekuatan Lunak Nasional. Strategi tersebut menekankan pembangunan ekosistem komunikasi digital nasional, serta pemanfaatan big data (data besar) dan AI dalam mempromosikan citra negara. Profesor Muda, Doktor Bui Hoai Son, Anggota Komisi Kebudayaan dan Sosial Majelis Nasional Vietnam, berpendapat bahwa komunikasi nasional kini telah memasuki babak baru perkembangan.

"AI dan big data (data besar) membantu negara maupun berbagai pihak terkait untuk berpartisipasi dalam mempromosikan citra. Namun saya juga ingin menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Hal yang paling menentukan tetaplah konten yang bernilai, menyentuh emosi, jujur, dan berstandar tinggi. Ekosistem digital nasional hanya akan menjadi kuat apabila ditopang oleh tim kreator konten multibahasa yang memahami budaya internasional serta memiliki etika profesional di ruang digital."

Oleh karena itu, pemanfaatan platform digital secara efektif merupakan cara Vietnam mempersonalisasi kisahnya, menceritakannya melalui sosok-sosok nyata, serta perjalanan dan pengalaman autentik dalam berbagai bahasa dan format. Cao Le Tuan Anh, Kepala Kantor sekaligus Juru Bicara Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam, mengatakan:

"Terkait kemampuan menciptakan produk-produk bermerek nasional serta meningkatkan daya saing di tingkat internasional, sektor kebudayaan akan mewujudkannya menjadi proyek, program, dan langkah konkret beserta peta jalan pelaksanaannya."

Selain giat menyempurnakan kerangka hukum terkait perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan hak kekayaan intelektual atas warisan digital, Vietnam juga perlu membangun mekanisme alokasi manfaat yang harmonis antara negara, masyarakat, seniman, kalangan peneliti, dan dunia pelaku usaha. Di samping itu, perlu didorong integrasi unsur-unsur budaya Vietnam ke dalam sektor-sektor industri kreatif, seperti perfilman, musik, desain, gim, dan pariwisata. Semua langkah tersebut akan mendukung warisan budaya tetap hidup, menyebar luas, dan menciptakan nilai-nilai baru di tengah kehidupan masyarakat modern./.