Sanksi-sanksi ekonomi baru terhadap Iran tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, lima hari setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan akan melancarkan perang ekonomi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melumpuhkan perlawanan Iran.
Front Baru
Menurut pengumuman Menteri Keuangan AS, Scott Bessent dalam konferensi pers pada Senin (24 Agustus) waktu setempat, AS memperluas ancaman penerapan sanksi sekunder terhadap berbagai organisasi dan negara yang terus melakukan transaksi dengan Iran. Sanksi-sanksi tersebut fokus pada lima bidang, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan transportasi laut. AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap 60 individu, perusahaan, dan kapal yang diduga membantu Iran memperoleh pendapatan dari minyak, perdagangan senjata, serta menjalankan kegiatan siber. Scott Bessent mengatakan bahwa langkah-langkah baru tersebut bertujuan mengisolasi Iran secara finansial dan memutus sumber daya yang membantu Teheran mempertahankan perekonomiannya di tengah konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.
Menanggapi perang ekonomi menyeluruh yang baru dilancarkan Washington, pemerintah Iran selama beberapa hari terakhir menegaskan bahwa negara tersebut telah mempersiapkan berbagai skenario tanggapan. Menteri Ekonomi dan Keuangan Iran, Ali Madanizadeh mengatakan:
"Mereka telah berupaya sekuat tenaga selama ini. Mereka telah berusaha menguji tekad rakyat maupun para pejabat Iran, dan setiap kali mereka selalu gagal. Sepertinya sekarang mereka memutuskan untuk mencoba lagi dan gagal. Kami telah memperkirakan hari-hari seperti ini sejak lama dan memahami rencana mereka dengan jelas. Pemerintah Iran telah memiliki rencana selama dua tahun dan sepenuhnya siap serta telah melakukan persiapan matang untuk menghadapi perkembangan ini."
Sejalan dengan tanggapan, para pejabat Iran juga menegaskan bahwa sanksi-sanksi baru AS tidak akan mengubah tekad Iran untuk melindungi kemerdekaan, kedaulatan, dan kepentingan nasional. Iran sekaligus memperingatkan akan melancarkan serangan balasan terhadap kepentingan ekonomi AS dan negara-negara sekutunya. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian pada 22 Agustus mengatakan bahwa negaranya kini menghadapi perang menyeluruh, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga militer dan keamanan.
Bagaimana Reaksi Pihak Ketiga?
Salah satu pertanyaan besar terkait peralihan fokus AS dari langkah militer ke langkah ekonomi terhadap Iran adalah bagaimana reaksi negara-negara terkait. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa negara-negara yang tidak mendukung sanksi AS akan “menghadapi isolasi bersama Iran”. Namun, Menteri Keuangan AS tidak menyebutkan secara konkret negara mana saja yang dimaksud maupun kapan sanksi tersebut akan diterapkan. Ia hanya menegaskan bahwa Presiden AS, Donald Trump telah melakukan sejumlah pembicaraan telepon dengan para pemimpin berbagai negara untuk memastikan negara-negara tersebut menghentikan hubungan ekonomi dengan Iran.
"Kami melihat bahwa cara terbaik untuk berinteraksi dengan berbagai negara adalah melalui diplomasi senyap, dan kami sedang bekerja dengan masing-masing negara untuk menjelaskan harapan kami. Kami tahu siapa mereka, dan mereka sendiri juga mengetahuinya. Oleh karena itu, ketika sanksi-sanksi keras dari Departemen Keuangan AS diberlakukan, mereka tidak akan bisa menyalahkan siapa pun kecuali diri mereka sendiri."
Menurut para pengamat, selain ketahanan Iran, keberhasilan atau kegagalan sanksi ekonomi baru AS sangat bergantung pada sejumlah kecil negara, terutama Tiongkok. Pada 21 Agustus, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian menyatakan:
"Tiongkok menentang sanksi sepihak yang ilegal, tidak memiliki dasar dalam hukum internasional, dan tidak mendapat otorisasi dari Dewan Keamanan PBB. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk bertindak secara bertanggung jawab dan dengan tekun menyelesaikan masalah melalui langkah-langkah politik dan diplomatik."
Andrew Miller, pakar senior di Pusat Kemajuan Amerika, menilai bahwa pengumuman sanksi ekonomi baru AS terhadap Iran dan negara-negara yang melakukan perdagangan dengan negara tersebut telah menegaskan satu kenyataan, yakni konflik ini sama sekali tidak membantu AS semakin dekat dengan tujuannya untuk menghapus program nuklir atau melemahkan pemerintah Iran. Meskipun sanksi ekonomi mungkin berhasil, sanksi tersebut kemungkinan besar tidak akan menghasilkan solusi yang cepat dan menguntungkan bagi AS./.
