Langkah Taktis
Dalam surat yang dikirimkan kepada para legislator AS pada 1 Mei, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kampanye militer AS di Iran telah berakhir seiring dengan dicapainya gencatan senjata antara AS dan Iran sejak 7 April. Oleh karena itu, pernyataannya mengenai pengakhiran kampanye militer di Iran bukanlah karena kekhawatiran akan batas waktu hukum 60 hari berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang tahun 1973. Aturan tersebut menetapkan bahwa Presiden AS hanya diizinkan mengerahkan kekuatan militer selama 60 hari tanpa persetujuan Kongres AS.
Namun, pernyataan Donald Trump ini memicu banyak kontroversi. Para anggota parlemen dari Partai Demokrat berpendapat bahwa pernyataan tersebut hanyalah sebuah langkah taktis untuk meredakan tekanan hukum di dalam negeri, sekaligus mengulur waktu bagi strategi-strategi lain untuk menekan Iran. Sepakat dengan pandangan ini, Katherine Yon Ebright, pakar tentang Kekuatan Perang di Brennan Center (AS), menyatakan:
"Gencatan senjata ini tidak hanya tidak menghentikan batas waktu 60 hari berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang, tetapi selama masa gencatan senjata ini, pemerintahan Donald Trump juga masih terus melakukan aktivitas blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Oleh karena itu, tindakan-tindakan inilah yang menunjukkan bahwa Resolusi Kekuatan Perang, bahkan menurut penafsiran pemerintahan Donald Trump sendiri, tidak ditangguhkan ataupun diakhiri."
Bagi para pengamat, mempercayai bahwa konflik di Timur Tengah telah berakhir seperti yang dinyatakan oleh Donald Trump adalah pandangan yang terlalu optimis. Argumen yang menyatakan bahwa deklarasi pengakhiran permusuhan dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan guna membantu pihak-pihak terkait mempercepat pencapaian kesepakatan, sejauh ini masih belum cukup meyakinkan. Pada 3 Mei, pemerintah Iran menyatakan bahwa AS telah secara resmi menanggapi proposal 14 poin untuk mengakhiri konflik yang diajukan oleh Teheran, di mana fokus utamanya hanyalah pada pengakhiran konflik saat ini secara permanen, dan tidak menyinggung masalah nuklir yang selama ini dianggap paling sulit.
Strategi-Strategi Penuh Risiko
Risiko bahwa konflik di Timur Tengah dapat dengan cepat tereskalasi kembali kini semakin nyata. Tepat pada 4 Mei, yang merupakan hari pertama Angkatan Laut AS melancarkan operasi pengawalan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz yang tengah diblokade, pihak Iran mengklaim telah menembakkan rudal ke arah kapal perang AS, sementara pihak AS menyatakan telah menghancurkan sejumlah kapal cepat bersenjata milik Iran. Pada saat yang sama, sebuah kapal kargo Republik Korea diserang dan terbakar di kawasan Teluk. Bersamaan dengan itu, Iran juga melanjutkan kembali serangan rudal dan pesawat tak berawak (UAV) ke kawasan industri Fujairah di Uni Emirat Arab (UAE), dengan alasan bahwa gerakan petualangan AS-lah yang telah memicu serangan tersebut.
Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah di Chatham House (Inggris), berpendapat bahwa saat ini, baik AS maupun Iran sedang berusaha menguji batas toleransi kerugian satu sama lain guna meraih keuntungan maksimal dalam negosiasi. Sanam Vakil menilai:
"Saya rasa para pemimpin Iran telah memperhitungkan strategi jangka panjang yang melampaui perkiraan para ekonom dan pembuat kebijakan Barat. Mereka mengandalkan masyarakat yang menggunakan tabungan mereka, suatu hal yang telah terbiasa dilakukan oleh rakyat Iran selama bertahun-tahun, dan hal ini menjadi semakin jelas sejak pecahnya pertempuran."
Menurut Sanam Vakil, penerapan strategi-strategi ini menyimpan risiko besar bagi kedua belah pihak. Bagi Iran, risikonya adalah ancaman keruntuhan ekonomi akibat embargo dan blokade; sementara bagi AS, risikonya adalah kemungkinan terseret lebih jauh dan terjebak di dalam konflik, ditambah dengan dampak lonjakan harga terhadap sebagian besar masyarakatnya. Sanam Vakil juga berpendapat bahwa sekalipun strategi Washington berhasil, dampaknya akan datang terlalu lambat bagi pemerintahan Donald Trump.
Untuk saat ini, pasar global telah mengalami gejolak tajam menyusul eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Juli kini telah melonjak 5,8% menjadi 114,44 USD per barel, sementara harga minyak mentah ringan AS (WTI) naik 4,4% menjadi 106,42 USD per barel.
