Pada 10 Juni, militer Amerika Serikat (AS) melancarkan berbagai serangan terhadap beberapa sasaran militer Iran sebagai tanggapan atas jatuhnya helikopter militer AS di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Sebagai balasannya, Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Pelanggaran berkelanjutan
Dalam pernyataan terkait serangan-serangan pada dini pagi hari Selasa (10 Juni), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa ini adalah tindakan bela diri terhadap Iran atas perintah Presiden AS, Donald Trump. Langkah ini terkait dengan tuduhan sebelumnya bahwa Iran menembak jatuh helikopter militer Apache milik AS di atas Selat Hormuz pada 9 Juni, meskipun Iran membantah hal tersebut.
Tindakan-tindakan AS dan Iran ini hanyalah pelanggaran gencatan senjata terbaru dalam serangkaian insiden yang bereskalasi secara signifikan selama dua pekan terakhir. Sebelumnya, setelah konflik selama beberapa pekan, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April dan memulai perundingan-perundingan panjang untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyelesaikan masalah program nuklir Iran.
Sejak saat itu, AS dan Iran telah saling menyerang setidaknya empat kali, tetapi dalam setiap kejadian, kedua pihak menggambarkan tindakan mereka sebagai "terkendali" dan "terbatas", sambil menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata. Namun, para pengamat khawatir bahwa tindakan "terkendali" dan "terbatas" tersebut mungkin akan segera berakhir jika kedua pihak tidak segera mencapai kesepakatan. Profesor Hubungan Internasional sekaligus konsultan di Institut Chatham House (Institut Penelitian Internasional Kerajaan Inggris), Yossi Mekelberg, menjelaskan:
"Kesepakatan gencatan senjata tidak selalu harus bertahan lama. Istilah gencatan senjata menyiratkan bahwa akar penyebab konflik belum ditangani. Menurut definisinya, semua kesepakatan gencatan senjata mudah runtuh, karena pihak-pihak yang bertikai hanya “menghentikan tembakan” untuk sementara waktu agar dapat menghasilkan solusi yang lebih berjangka panjang”.
Risiko terhadap gencatan senjata tidak hanya berasal dari AS dan Iran. Pada 7 Juni, gencatan senjata menghadapi tantangan terbesar ketika Iran meluncurkan rudal ke Israel untuk membalas serangan Israel di pinggiran selatan Beirut, Ibu kota Lebanon. Militer Israel kemudian melancarkan berbagai serangan udara terhadap Iran sebagai balasan. Pemerintah Israel pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahun saat ini mempertahankan sikap yang sangat keras terhadap Iran. Ia sellau menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan perang kapan saja.
Tekanan untuk mencapai kesepakatan
Menurut kalangan pengamat, negosiasi AS-Iran berada pada tahap sensitif. Koran New York Times (AS) pada awal pekan ini mengutip berbagai sumber berita tingkat tinggi yang menyebutkan bahwa perundingan AS-Iran telah dipersempit menjadi empat isu nuklir utama, yaitu: Washington meminta Iran untuk menghentikan kegiatan pengayaan uranium setidaknya selama 15 tahun; kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mencairkan cadangan uranium yang telah diperkaya; membongkar tiga fasilitas nuklir besar di Natanz, Fordo dan Isfahan; dan mengizinkan inspeksi internasional kapan saja dan di mana saja di Iran. Namun, seperti yang diakui oleh Presiden AS, Donald Trump pada pekan lalu, “meskipun kesepakatan” sudah sangat dekat, tetapi terdapat kemungkinan bahwa upaya ini juga akan menjadi upaya diplomatik terakhir.
Jared Mondschein, Direktur Penelitian di Pusat Penelitian AS, menilai bahwa resolusi Dewan Perwakilan Rakyat AS mengenai pembatasan kewenangan perang Donald Trump yang diberlakukan pada 3 Juni menunjukkan meningkatnya tekanan internal di AS guna segera menyelesaikan konflik dengan Iran.
“Menurut hemat saya, pada akhirnya tidak ada solusi yang jelas, mudah, dan cepat bagi situasi antara AS dan Iran. Masalah ini kemungkinan besar akan memengaruhi pemerintah Trump selama berbulan-bulan mendatang. Hal ini terjadi karena ketika pemerintah Trump mencapai kemajuan yang dianggap signifikan oleh banyak orang dalam kesepakatan apa pun dengan Iran, banyak anggota partai Trump sendiri yang menentangnya karena mereka menganggap bahwa hal itu serupa dengan kesepakatan yang ditandatangani pemerintah Obama dengan Iran”.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan pada 9 Juni bahwa Teheran tetap memprioritaskan solusi diplomatik. Namun ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah menunjukkan kemampuan mereka untuk menanggapi semua tantangan keamanan. Diplomat Iran tersebut juga menekankan bahwa Selat Hormuz bukanlah perairan internasional sepenuhnya tetapi wilayah bersama antara Iran dan Oman. Ia juga menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengurangi risiko insiden adalah penarikan pasukan-pasukan asing dari wilayah tersebut.
