Keberhasilan ini mencerminkan kapasitas produksi, integrasi dan adaptasi dari dunia usaha Vietnam. Namun tuntutan untuk saat ini adalah harus meningkatkan kualitas pertumbuhan, meningkatkan nilai tambah domestik serta mengembangkan peran perusahaan domestik.
Menurut data Direktorat Impor-Ekspor, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, selama sepuluh bulan tahun ini, total nilai impor-ekpsor komoditas Vietnam diperkirakan mencapai 1.010 miliar USD, meningkat 32,3 persen dibandingkan dengan kurun waktu yang sama tahun lalu. Ini untuk pertama kalinya Vietnam melampaui angka 1.000 miliar USD, sementara, tahun 2026 masih menyisakan dua bulan sebelum berakhir.
Memperluas Skala Perdagangan, Menciptakan Lagi Penggerak Pertumbuhan
Jika pada tahun 2007, saat Vietnam bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), total nilai impor-ekspor baru mencapai sekitar 100 miliar USD, setelah hampir dua dekade, angka ini telah meningkat 10 kali lipat. Dari angka 500 miliar USD pada tahun 2019 meningkat menjadi 900 miliar USD pada tahun 2025 dan melampaui angka 1.000 miliar USD pada tahun 2026, perdagangan Vietnam semakin meningkat, menegaskan taraf integrasi yang mendalam pada perekonomian global.
Yang patut diperhatikan, neraca perdagangan tengah mengalami perubahan positif. Setelah dua bulan berturut-turut mengalami surplus perdagangan, tingkat akumulasi defisit perdagangan telah turun dari lebih dari 20 miliar USD menjadi sekitar 14 miliar USD. Menilai hasil ini, ekonom Tran Hoang Ngan menyatakan:
“Total nilai impor-ekspor Vietnam telah menyentuh angka 1.000 miliar USD, memasukkan Vietnam ke dalam Kelompok 20 negara dengan volume perdagangan terbesar di dunia. Ini merupakan bukti yang menegaskan potensi, posisi dan prestise Vietnam serta peran Vietnam dalam perdagangan global”.
Di tengah upaya Vietnam yang menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ekspor dan impor tetap menjadi penggerak yang penting. Perluasan ekspor membuka pasar, mendorong produksi, menciptakan lapangan kerja, serta menarik investasi.
Meningkatkan Nilai dan Daya Saing
Namun, skala nilai yang besar belum tentu sebanding dengan nilai tambah di dalam negeri. Saat ini, sektor perusahaan yang bermodal investasi asing tetap memegang porsi besar dalam kegiatan impor-ekspor. Oleh karena itu, tuntutannya yaitu meningkatkan kapasitas perusahaan di dalam negeri, membantu mereka untuk berpartisipasi secara lebih mendalam pada nilai rantai global.
Untuk meningkatkan nilai tambah, di samping upaya menguasai teknologi dan mengembangkan industri pendukung oleh perusahaan, diperlukan solusi konkret dari pihak Negara. Di sesi diskusi Majelis Nasional (MN) pada tgl 30 Oktober, Wakil Perdana Menteri (PM) Nguyen Van Thang menekankan:
“Pemerintah tengah fokus meneliti berbagai skenario untuk membimbing dan perlunya mengatasi semua persoalan untuk Perusahaan dengan segera. Pada saat yang sama, Pemerintah juga fokus mendorong proyek-proyek yang memenuhi syarat agar segera beroperasi dalam bidang produksi dan bisnis; serta mendukung perusahaan untuk mempertahankan dan mendiversifikasi pasar, memperluas pesanan, serta meningkatkan nilai tambah".
Di samping itu, pemanfaatan semua perjanjian perdagangan bebas secara efektif, diversifikasi pasar dan pemenuhan berbagai standar hijau, penelusuran asal-usul, lingkungan, dan tenaga kerja juga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Hal itu menuntut perusahaan bukan sekadar bersaing dengan harga, melainkan harus meningkatkan kualitas, teknologi dan prestise produk.
Melampaui angka 1.000 miliar USD menjadi rekam jejak yang penting dalam proses integrasi ekonomi internasional dari Vietnam. Tapi, makna yang lebih besarnya terletak pada kemampuan mentransformasi neraca perdagangan menjadi kapasitas produksi, nilai tambah serta daya saing perekonomian. Dari perluasan nilai hingga penguasaan teknologi, dari partisipasi hingga peningkatan bertahap dalam rantai nilai global, semua itu justru merupakan langkah agar impor-ekspor benar-benar menjadi penggerak bagi target pertumbuhan Vietnam yang pesat dan berkesinambungan.
