Ketegangan Bereskalasi Serius di Libya

(VOVWORLD) - Baku hantam yang berlumuran darah telah merebak selama beberapa hari ini antara faksi-faksi yang bermusuhan di Libya. Negara Afrika Utara ini masih tenggelam dalam krisis keamanan-politik setelah gerakan Musim Semi Arab tahun 2011. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan banyak organisasi internasional telah mengimbau supaya dengan giat melakukan langkah-langkah yang perlu untuk mencegah kekerasan, tidak membiarkan konflik menyebar luas dan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap kestabilan regional dan internasional.

        

Menurut  PBB dan berbagai sumber berita regional, baku hantam merebak selama beberapa hari ini antara para pendukung dua pemerintah yang bermusuhan di Libya telah menyebabkan ratusan korban. Di antaranya, khusus pada tgl 27 Agustus, konflik telah mengakibatkan sedikitnya 23 orang tewas dan sekitar 140 orang lain luka-luka.

Ketegangan Bereskalasi Serius di Libya - ảnh 1Asap naik di ibu kota Tripoli, Libya pada 27 Agustus 2022 (Foto: Reuters)

Baku Hantam Masih Terus Berlangsung Sengit 

Berbagai baku hantam dicatat merebak di ibu kota Tripoli dan beberapa kota besar lainnya di seluruh Libya. Ini merupakan akibat langsung dari situasi politik menegangkan yang terus berlangsung selama berbulan-bulan di negara Afrika Utara ini. Ketegangan muncul ketika Parlemen yang berbasis di kota Tobruk di Libya Timur pada bulan Februari lalu menunjuk Fathi Bashagha menjadi Perdana Menteri (PM) baru sebagai pengganti PM Pemerintah Persatuan Nasional Libya (GNU) Abdul Hamid Dbeibah yang didukung PBB. 

Gerak-gerik ini telah segera menuai protes dan celaan yang keras dari pihak GNU. Dbeibah menyatakan tidak menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah manapun, kecuali pemerintah perwakilan rakyat. Sementara itu, para pendukung GNU memperingatkan bahwa Parlemen di Tobruk tengah menantang kekuasaan sah yang diakui PBB. 

Beberapa pekan sebelum baku hantam yang berlumuran darah merebak, berbagai sumber berita telah mencatat munculnya banyak kelompok bersenjata yang beraktivitas di sekitar ibu kota Tripoli. Hingga pertengahan bulan Agustus, beberapa baku tembak yang sporadis telah tercatat dan merebak menjadi baku hantam yang sengit sejak tgl 26 Agustus malam dan berlangsung sepanjang tgl 27 Agustus. 

Menurut kalangan pengamat, meskipun sempat mereda dalam dua hari ini (tgl 28-29 Agustus), tetapi konflik-konflik sengit yang menimbulkan banyak korban baru-baru ini menunjukkan keseriusan situasi konfrontasi yang tegang saat ini antara dua faksi yang bermusuhan di Libya. Kalau tidak dikendalikan dengan baik, konflik-konflik menghadapi bahaya menyebar luas menjadi satu perang saudara yang berbahaya dengan dampak-dampak yang dimungkinan melampaui perbatasan Libya. Kenyataan selama bertahun-tahun ini menunjukkan, Libya selalu menjadi salah satu titik awal utama dari para pengungsi dan migran ilegal dari Afrika yang melintasi Laut Tengah ke Eropa. Di samping itu, situasi krisis di Libya sepenuhnya tidak menguntungkan kestabilan di banyak negara di kawasan yang juga sedang menghadapi banyak kesulitan tentang keamanan-sosial-ekonomi seperti Mesir, Tunisia, dan sebagainya.

 
Ketegangan Bereskalasi Serius di Libya - ảnh 2Fathi Bashagha berbicara di depan kalangan pers di Tripoli pada 10/2/2022 (Foto: AFP/VNA)

Dorong Solusi Diplomatik untuk Pertahankan Kestabilan di Libya 

Menghadapi kenyataan yang patut dikhawatirkan sekarang ini di Libya, PBB beserta banyak negara dan organisasi internasional telah terus-menerus mengimbau supaya melakukan langkah-langkah darurat untuk mencegah eskalasi kekerasan dan menegakkan kembali kestabilan di Libya. Melalui itu, menciptakan syarat yang kondusif untuk menggelar proses politik, yang mendesak ialah mengadakan dengan sukses pemilihan Parlemen Libya yang direncanakan diadakan pada bulan Desember 2021 tetapi tertunda karena banyak alasan. 

Dalam satu pernyataan resmi pada tgl 25 Agustus, Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyatakan kekhawatiran yang mendalam terhadap situasi di Libya, menekankan bahwa PBB “sedang memantau perkembangan-perkembangan yang patut mengkhawatirkan di Libya, di antaranya ada gerak-gerik yang mengerahkan pasukan, mengancam penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik”. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB mengimbau para pihak yang terlibat untuk menurunkan ketegangan, bersamaan itu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan warga, yaitu kerukunan politik dan perdamaian. 

Pada hari yang sama, Misi Bantuan PBB di Libya (UNSMIL) juga mengimbau semua pihak yang terlibat di Libya supaya “segera menghentikan tindakan-tindakan permusuhan” untuk menjamin keselamatan warga dan memberi syarat untuk mendorong solusi-solusi politik. Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Libya mengeluarkan pengumuman untuk menyatakan “sangat mencemaskan” kasus-kasus baku hantam di Tripoli, mengimbau semua pihak supaya menahan diri dan berdialog untuk memecahkan perselisihan. 

Khususnya, Dewan Keamanan PBB memutuskan mengadakan sidang khusus tentang situasi Libya pada tgl 30 Agustus (waktu Amerika Serikat) untuk mengusahakan solusi bagi krisis. Opini internasional berharap supaya sidang ini bisa mengesahkan satu resolusi penting yang meminta semua pihak di Libya supaya menghentikan tindakan-tindakan permusuhan, membuka jalan untuk menggelar solusi politik bagi krisis, di antaranya menyusun satu undang-undang dasar baru dan mengadakan pemilihan-pemilihan yang demokratis dengan pengawasan dunia internasional./.

Komentar

Yang lain