Faktor Donald Trump
Menjelang pembukaan KTT G7 di Evian, pada 14 Juni, AS dan Iran mengumumkan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan konflik Timur Tengah, demi mewujudkan perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut. Bagi negara-negara anggota G7 (yaitu AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang) ini merupakan berita positif karena konflik Timur Tengah, termasuk upaya-upaya penghentian kegiatan militer yang sedang bereskalasi di Lebanon serta pembukaan kembali Selat Hormuz direncanakan menjadi topik-topik diskusi utama di KTT G7 tahun ini.
Menurut Sylvie Matelly, pakar hubungan internasional sekaligus Direktur Institut Jacques Delors (Prancis), kesepakatan yang baru dicapai tersebut, meskipun rinciannya belum diumumkan, telah meredakan beberapa tekanan dalam diskusi di Evian. Hal ini karena hampir semua anggota G7 lainnya memiliki sedikit perselisihan dengan pemerintah AS pimpinan Presiden Donald Trump dalam menyikapi konflik di Timur Tengah. Di samping itu, tercapainya kesepakatan dengan Iran dipandang sebagai kemenangan diplomatik penting bagi Presiden Donald Trump secara pribadi. Hal ini dinilai bisa membantu dia pergi ke Evian dengan suasana hati yang baik dan menjadi tidak terlalu “sulit diprediksi”. Menurut pakar Sylvie Matelley, detail ini sangat penting karena pengalaman berbagai KTT G7 dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sifat “sulit diprediksi” dari Presiden Donald Trump selalu menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap kesuksesan KTT.
“Sifat sulit diprediksi dari Presiden Trump adalah hal yang mulai biasa bagi kita, dan saya berpikir bahwa kita harus bersiap. Terbiasa dengan hal ini artinya kita tahu cara kelolanya. Lalu bagaimana cara mengelola hal itu saat dia duduk di meja perundingan?. Hal tersebut menjadi masalah nyata bagi masyarakat Eropa dan saya berpikir bahwa masyarakat Eropa telah melakukannya dengan cukup baik dalam beberapa tahun terakhir”.
Berbagi pandangan tersebut, Cedric Dupont, Profesor hubungan internasional di Institut Penelitian Pasca Sarjana Universitas Jenewa, berpendapat bahwa dalam konteks Presiden Donald Trump yang semakin kurang memperhatikan kerangka- lama hubungan antara AS dan para sekutu (seperti G7), para anggota sisa G7 lainnya perlu sangat bijaksana dalam diskusi-diskusi dengan Presiden AS. Hal itu bertujuan untuk mempertahankan konsensus relatif dalam Kelompok serta berbagai komitmen AS dalam masalah-masalah yang dipandang sebagai prioritas, di antaranya terkait Ukraina dan hubungan perdagangan.
Mengurangi Seminimal Ketidakseimbang Global
Di samping prioritas mengenai koordinasi hubungan dengan AS, Prancis selaku negara tuan rumah juga mengumumkan beberapa isu fokus untuk KTT G7 tahun ini, yang berpusat pada dua pilar utama. Pertama, mengurangi ketidakseimbangan ekonomi makro global serta memperkuat koordinasi antar-perekonomian besar untuk mengelola tingkat utang yang tinggi, inflasi dan fragmentasi keuangan.
Kedua, memikirkan kembali kerangka pembangunan global, menjalin hubungan-hubungan kemitraan global yang lebih setara dan saling menguntungkan serta memperbaiki solidaritas internasional dan sistem keuangan. Mengenai topik-topik spesifik, KTT G7 tahun ini akan mendiskusikan tujuh sektor yaitu: keuangan, pembangunan, diplomasi (Krisis), perdagangan, digital, urusan internal serta Lingkungan/Energi. Cedric Dupont, Profesor hubungan internasional di Institut Penelitian Pascasarjana Universitas Jenewa menilai:
“Agenda terselubung G7 adalah menemukan bagaimana mengoperasikan dan mengelola dunia tanpa Tiongkok. Mereka menaruh perhatian pada masalah keamanan di berbagai kawasan seperti Timur Tengah, Tanduk Afrika, Rusia, dan Ukraina. Mereka juga memperhatikan persaingan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan mineral esensial. Selain itu, mereka tetap peduli, meski dalam porsi yang lebih kecil, namun tetap signifikan terhadap lingkungan, yaitu bagaimana bertransisi dari ekonomi “cokelat” ke ekonomi “hijau”.
Melanjutkan komitmen-komitmen dalam KTT G7 tahun lalu di Kanada, topik-topik mengenai AI juga menjadi prioritas besar lainnya di KTT G7 tahun ini. Namun, diskusi-diskusi mengenai AI mungkin memicu perselisihan antara AS dan negara-negara G7 lainnya. Tepat menjelang KTT G7 tahun ini, pada 12 Juni, Pemerintah AS menginstruksikan penangguhan akses dua model AI mutakhir yang baru diluncurkan oleh Perusahaan Teknologi Anthoropic (AS) yaitu Fable 5 dan Mythos 5 bagi “warga negara asing, baik yang berada di AS maupun di negara-negara lain, bahkan karyawan Anthropic sendiri” dengan alasan “keamanan nasional”. Keputusan tersebut kini menuai protes dari banyak sekutu AS, terutama negara-negara Eropa yang memandang langkah ini sebagai bentuk fragmentasi teknologi yang mungkin merintangi upaya-upaya kerja sama global dalam bidang AI.
