Tiga puluh lima tahun setelah terjalinnya hubungan Kemitraan Dialog (1991–2026), ASEAN dan Rusia tengah mencari pendorong baru untuk semakin memperdalam hubungan Kemitraan Strategis yang telah dibangun oleh kedua pihak sejak tahun 2005. Oleh karena itu, Konferensi di Kazan menjadi kesempatan bagi para pemimpin untuk membahas prioritas kerja sama pada tahap berikutnya sekaligus mempererat hubungan Rusia dengan kawasan Asia Tenggara.

Peran Vietnam dalam Hubungan ASEAN–Rusia

Dalam proses pengembangan hubungan ASEAN–Rusia, Vietnam dipandang sebagai salah satu negara yang memberikan kontribusi aktif dalam memperkuat kerja sama kedua pihak. Menurut Duta Besar Vietnam untuk Federasi Rusia, Dang Minh Khoi, peran Vietnam sebagai “jembatan penghubung” antara Rusia dan ASEAN telah terbentuk sejak masa-masa awal Rusia menjalin hubungan dengan ASEAN. Duta Besar Dang Minh Khoi menyatakan:

“Selama 35 tahun terakhir, Vietnam telah mengajukan berbagai inisiatif untuk mendorong hubungan Rusia–ASEAN dan mendukung keterlibatan Rusia yang lebih aktif dalam berbagai mekanisme ASEAN. Vietnam juga memiliki hubungan Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Federasi Rusia, sehingga ini menjadi kondisi yang sangat mendukung untuk mengangkat hubungan Rusia–ASEAN ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, posisi Vietnam di ASEAN semakin berkembang dan memiliki pengaruh yang penting. Oleh karena itu, peran Vietnam dalam mendorong hubungan Rusia–ASEAN bersifat positif dan konstruktif serta mendapat apresiasi tinggi dari Rusia maupun negara-negara ASEAN.”

Faktor-faktor tersebut menjadi semakin bermakna ketika Vietnam akan memikul peran sebagai koordinator hubungan ASEAN–Rusia untuk periode 2027–2030. Hal ini dipandang sebagai peluang bagi Vietnam untuk terus berkontribusi dalam penyusunan program-program kerja sama baru antara kedua pihak, sekaligus mendorong dialog dan memperkuat konektivitas kawasan.

Dalam konteks tersebut, kehadiran Perdana Menteri Le Minh Hung pada KTT ASEAN–Rusia bukan hanya merupakan kegiatan diplomatik penting Vietnam dengan salah satu Mitra Strategis Komprehensifnya, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Vietnam untuk terus menunjukkan peran aktifnya dalam proses kerja sama antara ASEAN dan Rusia. Wakil Menteri Luar Negeri Vietnam Dang Hoang Giang menyatakan:

Vietnam bersama negara-negara lain akan mendorong pendekatan yang substantif, seimbang, dan berorientasi pada hasil nyata dalam kerja sama ASEAN–Rusia. Fokusnya adalah membuka potensi di berbagai bidang yang masih belum dimanfaatkan secara optimal, seperti perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, transformasi digital, keamanan nontradisional, pendidikan dan pelatihan, pariwisata, pertukaran masyarakat, serta khususnya kerja sama energi. Vietnam juga akan mendorong berbagai inisiatif yang memiliki tingkat kelayakan tinggi, sesuai dengan kebutuhan ASEAN, keunggulan Rusia, serta tuntutan situasi saat ini.”

Kunjungan kerja Perdana Menteri Le Minh Hung kali ini juga menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya Kemitraan Strategis ASEAN–Rusia bagi Vietnam, sekaligus menegaskan penghargaan Vietnam terhadap hubungan persahabatan tradisional dan Kemitraan Strategis Komprehensif Vietnam–Federasi Rusia.

Terus Memperkuat Hubungan Baik Vietnam–Federasi Rusia

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Kemitraan Strategis Komprehensif Vietnam–Federasi Rusia terus menunjukkan perkembangan positif. Kedua pihak secara rutin melakukan pertukaran delegasi, kontak tingkat tinggi, serta koordinasi dalam berbagai isu internasional yang menjadi perhatian bersama.

Kerja sama ekonomi dan perdagangan secara bertahap kembali menunjukkan pertumbuhan, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai 4,77 miliar dolar AS pada tahun 2025 dan 1,72 miliar dolar AS dalam empat bulan pertama tahun 2026.

Selain itu, berbagai bidang kerja sama strategis seperti energi, minyak dan gas, pertahanan dan keamanan, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan dan pelatihan, serta pertukaran masyarakat terus didorong oleh kedua pihak, sehingga menciptakan landasan yang lebih kuat untuk memperluas kerja sama di masa depan.

Dalam konteks tersebut, kunjungan kerja pertama Perdana Menteri Le Minh Hung ke Federasi Rusia dalam jabatan barunya diharapkan dapat membantu mempertahankan momentum positif hubungan bilateral sekaligus memberikan dorongan baru bagi implementasi berbagai arah kerja sama yang telah disepakati oleh para pemimpin kedua negara. Duta Besar Dang Minh Khoi menilai:

Di sela-sela konferensi, Perdana Menteri Le Minh Hung akan mengadakan banyak pertemuan dengan para pemimpin berbagai negara, termasuk dengan para pemimpin Federasi Rusia. Fokus pertemuan tersebut adalah meninjau kembali hubungan Vietnam–Rusia selama ini dan membahas arah kerja sama ke depan. Tahun 2026 merupakan tahun yang sangat dinamis dalam hubungan kedua negara. Saya berharap kunjungan Perdana Menteri Le Minh Hung akan menghasilkan banyak capaian yang substantif, sehingga memberikan kontribusi penting dalam mendorong hubungan Vietnam–Federasi Rusia berkembang secara kuat, efektif, dan berkelanjutan di semua bidang, terutama pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama.”

Dengan fondasi yang kokoh yang telah dibangun selama bertahun-tahun, Vietnam terus menegaskan perannya sebagai mitra yang aktif dan bertanggung jawab, sekaligus sebagai jembatan penghubung yang turut mendorong kerja sama antara ASEAN dan Federasi Rusia pada tahap perkembangan baru.