Itu bukan hanyalah kemenangan besar dari rakyat Vietnam dalam perang perlawanan melawan Amerika Serikat, menyelamatkan Tanah Air yang penuh dengan derita dan kesukaran, tetapi juga simbol yang cemerlang dari heroisme revolusioner, dari tekad dari kemerdekaan, kemandirian dan kekuatan persatuan besar bangsa.
Sekjen To Lam (Foto: vov.vn) |
Aspirasi akan satu negara Vietnam yang damai, bersatu, merdeka, dan bebas adalah api suci yang telah memupuk semangat nasional selama ribuan tahun sejarah. Sejak Raja Hung mendirikan negara hingga saat ini, melalui banyak perang perlawanan terhadap agresor asing untuk menjaga negara dan perbatasannya, patriotisme dan semangat nasional selalu menjadi benang merah yang menyelujuri sepanjang sejarah. Di bawah kepemimpinan Partai Komunitas dan Paman Ho, aspirasi itu selalu menjadi kekuatan spiritual yang tak tertandingi, yang mendorong semua lapisan masyarakat, jutaan orang laksana satu, untuk bergandengan tangan, bersatu, mengatasi semua kesulitan dan tantangan untuk merebut kembali kemerdekaan pada tahun 1945, mengusir kolonialisme pada tahun 1954 dan menyatukan tanah air pada tahun 1975.
Kemenangan dari Bangsa yang Heroik
Kemenangan pada tanggal 30 April 1975 tidak hanya menandai berakhirnya perang yang paling panjang dan paling sengit dalam sejarah Vietnam modern, tetapi juga merupakan tonggak merah yang cerah dalam perjalanan menegakkan negara dan menjaga negara dari bangsa. Itulah kemenangan dari kepercayaan dan aspirasi akan kemerdekaan, kebebasan dan persatuan nasional; kemenangan dari kekuatan persatuan besar bangsa di bawah kepemimpinan bijaksana Partai Komunis Vietnam; Kemenangan dari kebenaran bahwa "Tidak ada yang lebih berharga daripada kemerdekaan dan kebebasan" dan semangat patriotisme yang membara, tekad berjuang, dan kegigihan abadi dari rakyat Vietnam, dari kekuatan progresif dan para pecinta damai di dunia.
Kemenangan pada tgl 30 April 1975 merupakan hasil dari tekad baja dari bangsa Vietnam tentang negara bersatu yang tidak terpecah-belah oleh kekuatan mana pun. Presiden Ho Chi Minh – pemimpin bangsa yang jenius – menegaskan akan kebenaran abadi: “Negeri Vietnam adalah satu, rakyat Vietnam adalah satu. Sungai-sungai mungkin bisa mengering, gunung-gunung mungkin bisa terkikis, tetapi kebenaran itu tidak akan pernah berubah.”
Ajaran Paman Ho bukan hanya merupakan deklarasi suci kedaulatan dan keutuhan wilayah, tetapi juga merupakan obor yang menerangi jalan, merupakan sumber inspirasi, dan memberi kekuatan kepada berbagai generasi rakyat Vietnam selama tahun-tahun peperangan yang sulit dan sengit. Kemenangan 30 April 1975 adalah bukti nyata bagi filosofi zaman yaitu "Tidak ada yang lebih berharga daripada kemerdekaan dan kebebasan".
Bukan hanyalah kemenangan militer, Kemenangan pada tgl 30 April 1975 merupakan kristalisasi dari kecerdasan, kapabilitas dan hasrat yang kuat akan perdamaian yang berkesinambungan, tentang hak untuk menentukan nasib sendiri dari suatu bangsa yang pernah dijajah, dipecah belah, dan ditindas. Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal KS PKV Le Duan, "kemenangan itu bukan milik individu tertentu, tetapi milik seluruh bangsa Vietnam." Dan sebagaimana penyair To Huu pernah menulis, "Tak ada penderitaan yang hanya dialami satu orang/ Kemenangan ini milik bersama dari seluruh umat manusia."
Kemenangan besar pada musim Semi tahun 1975 juga meninggalkan rekan jejak yang kuat di gelanggang internasional, mendorong semangat secara mendalam gerakan pembebasan bangsa di banyak kawasan seperti Asia, Afrika, Amerika Latin, memacu berbagai bangsa untuk bangkit berdiri menentang neokolonialisme dan merebut hak kebebasan dan kemerdekaan. Itu adalah kemenangan dari keadilan atas kekuasaan, penegasan di depan komunitas internasional bahwa: satu bangsa bertapapun kecilnya tetapi kalau berkeadilan, bersatu dan bertekad, dengan dukungan dan bantuan yang jernih dari sahabat internasional, dari kekuatan-kekuatan progresif dan rakyat pecinta damai di dunia, maka pasti akan mengalahkan semua kekuatan yang lebih jauh kuat berlipat ganda.
Tekad, Hasrat untuk Menyatukan Tanah Air
Selama perang perlawanan melawan kolonialisme dan imperialis selama 30 tahun (1945–1975), rakyat Vietnam harus menghadapi seribu satu kesulitan, pengorbanan, dan kerugian, namun tidak pernah sekalipun keinginan mereka untuk satu negara Vietnam yang merdeka dan bersatu tergoyahkan.
Dalam seruannya pada Hari Nasional, tgl 2 September 1955, Paman Ho menegaskan: "Vietnam pasti akan bersatu, karena negara kita adalah satu blok, tidak ada yang dapat memecahnya." Dalam suratnya kepada seluruh rakyat negeri pada tahun 1956, Paman Ho menulis, "Penyatuan tanah air adalah jalan hidup bagi rakyat kita." Ketika peperangan mencapai tahap yang paling dahsyat dan intens, pada tanggal 17 Juli 1966, beliau dengan tegas menyatakan bahwa “Perang mungkin bisa berlangsung selama 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun atau bahkan lebih lama lagi. Hanoi, Hai Phong dan sejumlah kota dan pabrik mungkin terhancur. Namun, rakyat Vietnam sama sekali tidak takut! Tidak ada yang lebih berharga daripada kemerdekaan dan kebebasan. Ketika hari kemenangan tiba, rakyat kita akan membangun kembali negara kita menjadi lebih megah dan lebih indah.” Dan memang begitu benar seperi itu, di bawah kepemimpinan Presiden Ho Chi Minh dan Partai, tentara dan rakyat Vietnam mengatasi seribu satu kesulitan yang tak terhitung jumlahnya, secara bertahap mengalahkan strategi perang modern, dengan keyakinan kuat pada kekuatan keadilan dan semangat kemerdekaan nasional.
Pernyataan Presiden Ho Chi Minh "Vietnam adalah satu, rakyat Vietnam adalah satu" bukan hanya sebuah kebenaran, sebuah orientasi strategis, tetapi juga sebuah perintah hati dari seluruh bangsa. Di tengah asap dan api peperangan, ajaran itu menjadi sumber kekuatan besar, sumber inspirasi kuat, yang menggerakkan jutaan rakyat Vietnam untuk maju ke medan perang dengan tekad "mati demi hidupnya Ibu pertiwi". Perkataan Paman Ho merupakan seruan suci, simbol tekad untuk mengatasi segala penderitaan dan kesulitan guna merebut kemerdekaan dan kebebasan bagi bangsa, persatuan bagi negara, serta kebahagiaan dan kesejahteraan bagi rakyat.
Selama lebih dari 30 tahun melakukan perang perlawanan dan pembangunan nasional, jutaan putra putri bangsa telah dengan gagah berani berjuang dan mengorbankan nyawa mereka. Banyak sekali keluarga yang kehilangan orang yang tercintai, desa-desa dan kota-kota hancur lebur, dan banyak generasi muda terpaksa mengesampingkan impiannya untuk belajar dan ambisi masa depan untuk berangkat membela Tanah Air dengan sumpah "kami tidak akan kembali pulang sebelum musuh habis." Para ibu mengantar anak-anaknya pergi, para istri mengantar suaminya pergi berperang tanpa ada janji kembali. Anak-anak tumbuh dewasa di tengah hujan bom dan peluru, belajar membaca dan menulis di dalam guha perlindungan , makan jagung, kentang, dan singkong sebagai pengganti nasi. Tak terhitung banyaknya prajurit, pemuda pembidas, dan buruh pekerja garis depan yang gugur di tanah air yang berbentuk S itu, pasukan komando khusus yang bertempur di jantungnya musuh, milisia dan gerilyawan di rawa-rawa dan desa-desa, prajurit pembebasan yang menyeberangi sungai Ben Hai dan pegunungan Truong Son... mereka semua membawa dalam dirinya keyakinan yang kuat bahwa: bangsa Vietnam akan merebut kembali hak kedaulatan negaranya, bagian Selatan dan Utara pasti akan bersatu.
Kemenangan tanggal 30 April 1975 merupakan kristalisasi dari cita-cita dan tekad baja dari suatu bangsa yang tidak akan pernah terkalahkan, dari darah dan tulang jutaan rakyat Vietnam, dari kecintaan terhadap kampung halaman dan tanah airnya, dari keberanian, keyakinan akan kemenangan dan tekad untuk tidak pernah mundur.
Setengah abad telah berlalu sejak tanah air bersatu kembali, tetapi alunan lagu kemenangan masih bergema dalam jiwa rakyat Vietnam. Pada kesempatan memperingati peristiwa penting ini, kita dengan hormat mengenangkan Presiden kita tercinta Ho Chi Minh, pemimpin jenius Partai dan rakyat dari Partai dan bangsa kita, guru besar revolusi Vietnam, pahlawan pembebasan nasional, tokoh besar budaya dunia, pejuangan kenamaan dari gerakan komunis internasional, yang meletakkan dasar ideologis bagi usaha perjuangan pembebasan dan penyatuan tanah air; memberi penghormatan dan mengenang para pemimpin senior Partai, para martir heroik, kaum cendekiawan, rakyat dan prajurit di seluruh negeri yang secara heroik berjuang dan berkorban demi cita-cita mulia itu. Generasi Vietnam saat ini dan di masa mendatang akan selalu mengingat jasa-jasa besar serta pengorbanan demi kemerdekaan Tanah Air, demi kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat, serta demi keabadian dan pembangunan bangsa.
Kami menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada sahabat-sahabat internasional – kekuatan-kekuatan progresif, negara-negara sosialis sesaudara, organisasi-organisasi kemanusiaan, dan para pecinta damain di seluruh dunia – yang telah mendampingi, membantu, dan mendukung Vietnam selama bertahun-tahun perjuangan pembebasan bangsa, serta dalam upaya rekonstruksi dan pembangunan tanah air pascaperang. Simpati dan dukungan yang murni, tulus, dan tanpa pamrih itu akan selamanya dihargai, dicintai, dan terukir dalam hati rakyat Vietnam.
Separuh Abad Memulihkan, Menyembuhkan dan Mengembangkan
Selama lebih dari satu abad ini, bangsa Vietnam telah mengalami halaman-halaman sejarah yang tragis dan herois, harus menderita banyak kesedihan dan kehilangan di bawah penindasan kaum kolonial dan feodal dan khususnya dua perang sengit yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Peperangan tidak hanya merenggut nyawa jutaan orang saja, tapi juga meninggalkan banyak dampak yang mendalam tentang jasmani, moral, sosial-ekonomi dan lingkungan, berpengaruh terhadap generasi-generasi yang lahir pada waktu tanpa suara senapan. Tidak ada daerah mana pun di bumi Vietnam yang bebas dari kesedihan, tidak ada keluarga yang tidak mengalami kehilangan dan pengorbanan dan sampai dewasa ini, Vietnam masih mengalami dampak perang akibat bom, ranjau dan agen oranye/dioksin.
Tetapi waktu, rasa manusiawi dan altruisme telah membantu bangsa Vietnam selangkah demi selangkah mengatasi kesedihan, menyembuhkan luka-luka, mengesampingkan masa lampau, menghargai perbedaan dan menuju ke masa depan. Setelah 50 tahun tanah air menjadi satu, Vietnam telah memiliki cukup kapabilitas, kepercayaan, kebanggaan dan toleransi untuk mengatasi kesakitan dan bersama-sama menatap ke depan agar perang yang telah lewat tidak menjadi kesenjangan yang memisahkan anak-anak keturunan Lac Hong.
Di perjalanan perkembangan itu, kebijakan kerukunan nasional selalu ditetapkan oleh Partai dan Negara sebagai pilihan strategis yang berjangka panjang dan menjadi pilar dalam persatuan besar seluruh bangsa. Kita memahami secara jelas sebab-musabab bersejarah yang mendatangkan perang – dari intervensi dan perpecahan dari luar sampai intrik-intrik sabotase terhadap semangat persatuan, menyebarkan permusuhan demi intrik politik. Tapi, kita juga mengerti bahwa semua orang Vietnam, baik yang hidup di dalam maupun di luar negeri, meskipun pernah memihak mana pun dari sejarah, semuanya memiliki satu asal-usul, satu bahasa, satu rasa cinta akan kampung halaman dan tanah air.
Selama bertahun-tahun ini, dalam berbagai kunjungan kerja di hampir semua benua, saya telah berkali-kali bertemu dengan jutaan warga setanah air Vietnam yang sedang hidup di luar negeri – baik para intelektual muda yang melakukan usaha di Eropa, Amerika, Asia, Oseania maupun para wisausaha, para seniman yang terkenal, opekerja biasa “bumi baru”, bahkan banyak orang “yang berada di pihak sana” dulu. Setiap pertemuan meninggalkan di hati saya kesan mendalam bagi saya: meskipun mengalami perbedaan tentang pandangan politik, pengalaman sejarah atau syarat hidup, mereka juga memiliki kebanggaan bangsa, semuanya adalah “orang Vietnam” dan kerinduan yang tak habis terhadap dua kata “Kampung halaman”.
Saya pernah menyaksikan pertemuan-pertemuan yang menghadrukan antara para veteran perang Vietnam dan veteran perang Amerika Serikat (AS) – para orang yang pernah berada di dua garis, pernah memegang senapan untuk berkonfrontasi, sekarang bisa berpegangan tangan, beromong-omong, dan saling berbagi dengan pengertian yang tulus dan tiada rasa rendah diri lagi. Dewasa ini, Vietnam dan AS dari mantan permusuhan telah menjadi mitra strategis yang komprehensif, bersama-sama bekerja sama demi perdamaian dan kepentingan rakyat dua negeri, demi keamanan dan stabilitas di kawasan. Oleh karena itu, tidak ada alasan apa yang membuat orang-orang Vietnam - darah yang Ibu yang sama Au Co, selalu berpikir tentang sebuah negara yang bersatu dan makmur - menyimpan lagi permusuhan dan pemisahan.
Kerukunan nasional tidak berarti melupakan sejarah atau menghapuskan perbedaan, maka mengakui sudut-sudut pandang yang berda dalam semangat toleransi dan menghargai untuk bersama-sama menuju ke tujuan yang lebih besar: membangun sebuah negara Vietnam yang damai, bersatu, perkasa, beradab dan makmur, agar generasi-generasi di kemudian hari tidak harus menyaksikan perang, permisahan dan permusuhan, serta kehilangan seperti yang dihadapi pendahulunya.
Kita percaya bahwa semua putra-putri bumi Vietnam- meskipun hidup di mana pun, meskipun bagaimana pun masa lampau juga bersama-sama berjalan seperjalanan, bersatu hati dan memberikan kontribusi untuk membina satu masa depan yang cerah bagi bangsa. Partai dan Negara selalu dengan konsukuen membuka lebar jengkauan tangan, menghargai semua sumbangan, mendengarkan suara konstruktif dan bersatu dari komunitas orang Vietnam di luar negeri – para orang yang sedang turut menduniakan Vietnam.
Kita tidak bisa menulis kembali sejarah, tapi, kita bisa menentukan kembali masa depan. Masa lampau untuk diingat, disyukur dan ditarik pelajaran pengalaman. Masa depan untuk bersama-sama membangun, membina dan mengembangkannya. Itu merupakan janjian yang terhormat dari generasi dewasa ini kepada orang-orang yang telah gugur, merupakan hasrat bersama dari sebuah bangsa yang pernah menderita banyak kelukaan dan kehilangan tapi belum pernah menunduk kepala.
Pada 50 tahun yang lalu, bangsa Vietnam telah menulis satu epos yang gemilang dengan tekad besi dan kapabilitas yang gigih – itu merupakan lagu dari tekad, penyatuan dan perdamaian. Separuh abad kemudian, justru bangsa itu sedang terus menulis satu epos yang baru – lagu dari pembaruan, integrasi, perkembangan dan tekad menggeliat kuat dalam abad XXI. Dulu, tidak ada seorang Vietnam sejati manapun ingin tanah air dipisahkan. Dewasa ini, pasti tidak ada orang Vietnam manapun yang tidak menginginkan agar tanah air menjadi perkasa, makmur dan sepantas dengan negara-negara adi kuasa di lima benua.
Melihat ke Depan – Mewariskan, Membina dan Merenovasi dan Berkembang
Lebih dari pada siapa pun, generasi dewasa ini mengerti secara jelas bahwa kemerdekaan dan penyatuan bukan tujuan terakhir, melainkan merupakan titik awal bagi satu perjalanan yang baru: perjalanan membangun sebuah Vietnam yang damai, kuat, beradab, berkembang dan hidup abadi.. Apabila generasi pendahulu telah menulis kebenaran “Negeri Vietnam adalah satu, bangsa Vietnam adalah satu” dengan semua pengorbanan, maka generasi dewasa ini harus mengubah kebenaran itu menjadi motivasi perkembangan, menjadi sayap untuk menggeliat pada zaman baru.
Semangat menyatukan tanah air – pernah menjadi kepercayaan dan tekad besi untuk mengatasi kesulitan, tantangan, hujan bom dan badai peluru – sekarang menjadi tekad politik, semangat pembaruan dan tindakan konkret untuk membela kemerdekaan, kedaulatan, keutuhan wilayah, mengembangkan ekonomi, meningkatkan kehidupan materiil dan spirituil untuk masyarakat, harus membuat setiap orang Vietnam, meskipun hidup di mana pun, meskipun pekerjaan apa, juga merasa bangga tentang tanah air, percaya pada masa depan dan mendapat peluang untuk memyumbangkan perkembangan umum.
Pada latar belakang dunia mengalami perkembangan yang cepat dan sulit diduga, Vietnam perlu memiliki harkihat yang mantap, jangan jatuh pada pusaran geo-politik atau situasi pasif dalam menghadapi semua konflik dunia. Setiap pembengkokan dari sejarah dunia juga menjadi peluang atau tantangan besar bagi negara-negara kecil apabila menyiapkan kekuatan internal secara baik atau tidak baik. Bangsa Vietnam lebih pada siapa pun memahami secara jelas dampak serius akibat perang, Vietnam merupakan bangsa yang mencintai perdamaian, tidak pernah ingin terjadi perang dan akan melakukan segala semua yang bisa dilakukan agar perang tidak terjadi.
Tapi, apabila “musuh membuat kita harus memegang senapan” maka kita masih tetap menjadi pemenang. Lebih dari pada yang sudah-sudah kita perlu membangun satu perekonomian yang mandiri, satu pertahanan-keamanan seluruh rakyat, komprehensif dan modern; satu sistem politik yang ramping, berdaya-guna dan berhasil-guna, sebuah masyarakat yang berkembang, bersatu, berbudaya, dan bersifat manusiawi.
Mengingikan demikian, harus mengembangkan kearifan dan kekuatan seluruh bangsa, di antaranya ada komunitas orang Vietnam di luar negeri – sebagian yang tidak bisa terpisahkan dari persatuan seluruh masyarakat. Pada era digital, era konektivitas global, setiap orang Vietnam di lima benua bisa memberikan sumbangan pada pembangunan tanah air dengan pengetahuan, kekreatifan, patriotisme dan tanggung jawab warga negara.
Era baru yang sedang kita masuki– dengan teknologi kecerdasan buatan, transformasi digital, ekonomi hijau dan pembangunan yang berkesinambungan memerlukan pola pikir pembaruan, pola pengembangan yang baru, manusia yang baru. Di masa mendesak, kita masih mengalami banyak tantangan tentang institusi, produktivitas kerja, kualitas sumber daya manusia, keamanan lingkungan, wabah, perubahan iklim dan semua bahaya keamanan non-tradisional. Tapi sejarah sudah membutikkan: bangsa Vietnam belum pernah mundur dalam menghadapi tantangan, kesulitan. Masalahnya, kita bisa memiliki cukup semangat untuk mengubah, cukup tekad untuk menggeliat, dan cukup persatuan untuk mengubah kesulitan menjadi motivasi perkembangan atau tidak.
Generasi dewasa ini – dari kader, anggota Partai Komunis, pegawai negeri sampai buruh, petani, intelektual, wirausaha, pejalar, mahasiwa, semua lapisan rakyat juga adalah anak Naga, cucu peri – perlu memahami secara mendalam bahwa kita sedang menikmati semua nilai warisan yang agung dari pendahulu, dan kita bertanggung jawab mencemerlangkan bangsa pada zaman baru. Setiap tindakan dewasa ini harus sepantas dengan raga dan jiwa yang telah gugur dengan semua pengorbanan, kelukaan dan kehilangan yang diderita seluruh bangsa.
Kita jangan membolehkan tanah air tertinggal di belakang. Kita tidak perduli membiarkan bangsa kehilangan peluang. Kita tidak perduli membiarkan pusaran sejarah terjadi. Oleh karena itu, harus mengedepankan kepentingan nasional dan bangsa. Kita harus bertindak demi masa depan yang berjangka panjang tanpa prestasi jangka pendek. Harus gigih menjaga kemerdekaan dan kedaulatan, keutuhan wilayah, menjaga linkungan yang damai dan stabil. Bersamaan itu, harus melakukan pembaruan secara kuat dalam pola pikir pengembangan dan melakukan reformasi administrasi, membangun negara hukum sosialis, ekonomi pasar dengan orientasi sosialis, dengan pengelolaan Negara di badah kepemimpinan Partai dan membangun masyarakat sosialis yang modern.
Melihat ke depan, kita sepenuhnya dengan bangga percaya pada kekuatan internal dari bangsa Vietnam – sebuah bangsa yang berulang kali mengalahkan kamum agresor dan bangkit dari perang, menegaskan diri kepada sejarah dan dunia. Dengan tradisi seribu tahun pembangunan dan pembelaan tanah air, dengan hasrat menggeliat secara terus-menerus, bagi generasi yang berbakat, berhasrat, mencintai tanah air, kreatif dan cukup watak –Vietnam pasti mencapai sukses.
Abad XXI merupakan abad dari bangsa -bangsa yang tahu mengusai nasibnya. Sekjen To Lam percaya bahwa bangsa Vietnam pasti menulis halaman-halaman baru yang cemerlang dalam perjalanan pengembangan demi sebuah negara Vietnam yang merdeka, bebas, berbahagia, makmur, berperadaban dan sejahtera, memiliki posisi dan suara yang penting dalam komunitas internasional.
To Lam - Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Vietnam