Selama lebih dari 10 tahun terakhir, baik hujan maupun panas, Nguyen Ngoc Phuong, seorang pemuda yang terdampak Agen Oranye/dioksin, tetap mengendarai sepeda motor roda tiga khusus menuju sekolah. Ia adalah seorang guru kejuruan di Pusat Perlindungan Korban Agen Oranye dan Anak-anak Kurang Beruntung Cabang 1 (Kota Da Nang, Vietnam Tengah).
Di tengah ruang praktik yang bising oleh suara mesin, Pak Guru Nguyen Ngoc Phuong, yang tingginya kurang dari 90 sentimeter dan memiliki benjolan berat di dada, dengan sabar membimbing setiap gerakan kecil siswa serta mengajari mereka cara membuat sebatang dupa secara utuh. Sebagian besar siswa di sini mengalami disabilitas intelektual akibat dampak Agen Oranye/dioksin. Oleh karena itu, mengajari mereka bukanlah pekerjaan yang mudah.
Pelajaran yang dengan susah payah diajarkan kemarin, hari ini bisa kembali ke titik nol. Setiap hari adalah awal yang baru, menuntut sang guru untuk mengulangi setiap langkah seolah-olah baru pertama kali diajarkan. Namun, Pak Guru Phuong selalu merasa bahagia ketika melihat produk karya siswanya semakin sempurna dari hari ke hari, serta melihat tatapan polos penuh kegembiraan setelah mereka menyelesaikan pelajaran.
“Nama saya Bui Viet Huy, lahir pada tahun 2001. Pak Guru Phuong mengajari saya membuat dupa. Membuat dupa itu menyenangkan.”
Ketika melihat para siswanya, Pak Guru Nguyen Ngoc Phuong kembali teringat pada masa kecilnya, ia harus membawa kursi kayu ke sekolah agar dapat duduk lebih tinggi untuk melihat papan tulis. Namun, anak laki-laki yang rajin belajar itu terpaksa putus sekolah karena sering sakit. Meski demikian, ia tidak mau menyerah, juga tidak ingin menerima kehidupan yang bergantung pada keluarganya yang serbakekurangan di kampung halamannya di Que Son, bekas Provinsi Quang Nam (sekarang Kota Da Nang).
Pada usia 18 tahun, ia nekat merantau ke Kota Ho Chi Minh demi mencari peluang untuk mengembangkan diri. Di sana, ia bertemu dengan seorang guru yang bersedia mengajarinya. Pengalaman inilah yang menjadi pendorong utama bagi Nguyen Ngoc Phuong, setelah 10 tahun merantau, untuk kembali ke Da Nang dan menjadi guru kejuruan bagi anak-anak yang terdampak Agen Oranye/dioksin.
“Saya lebih beruntung dibandingkan mereka karena saya masih memiliki akal sehat, kesadaran dan pengetahuan. Sementara itu, sebagian besar anak-anak di sini mengalami disabilitas intelektual, merasa rendah diri, dan enggan berbaur dengan masyarakat. Sebagai seorang kakak, saya bagikan semua pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan dari masyarakat kepada mereka.”
Sama-sama terdampak Agen Oranye/dioksin akibat paparan dari orang tuanya, Pak Guru Nguyen Ngoc Phuong memahami betul penderitaan dan ketidakberuntungan yang dialami para siswanya. Kondisi fisik mereka lemah. Saat cuaca panas, mereka mudah mengalami agitasi, sementara ketika cuaca dingin, mereka sering jatuh sakit. Selain itu, mereka juga sulit berkomunikasi. Bahkan, apa yang mereka sampaikan sering kali tidak dipahami oleh orang di sekitar, termasuk orang tua mereka sendiri. Memahami penderitaan tersebut, Pak Guru Phuong selalu dengan sepenuh hati mendampingi para siswa melewati setiap masa sulit. Ibu Guru Nguyen Thi Ngoc Trang, yang telah bekerja bersama Pak Guru Nguyen Ngoc Phuong selama bertahun-tahun, menuturkan:
“Dia adalah guru yang mengajar anak-anak dengan sepenuh hati. Karena memiliki keadaan yang sama dengan mereka, dia memahami apa yang mereka butuhkan dan bisa mengajar dengan sangat efektif.”
Sepulang mengajar, Pak Guru Nguyen Ngoc Phuong kembali menjadi “tumpuan” tepercaya bagi warga sekitar saat mereka membutuhkan bantuan terkait penggunaan platform digital untuk mengurus prosedur administrasi. Ia juga aktif memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk membantu kelompok rentan, khususnya para korban Agen Oranye/dioksin, menyuarakan aspirasi mereka.
Perjalanan hidup dan dedikasi Pak Guru Phuong menjadi bukti nyata bahwa lewat kerja keras dan kegigihan, setiap kesulitan dapat diatasi. Siapa pun, dalam kondisi apa pun, mampu berbaur dengan percaya diri dan terus bersinar di tengah masyarakat./.
